Frekuensi yang semakin
menghilang…
Diikuti dengan suara yang semakin
tidak terdengar…
Kamu, masih tentang kamu yang tak
pernah benar-benar mendengarkanku, dengar tentang aku, yang selalu
mendengarkanmu…
Kamu, yang meski hanya satu dua
hal begitu sederhana, sesederhana memanggil nama, memberi apresiasi di
hari-hari bersejarah, berbagi ucapan remeh temeh, memberi kata-kata nyaman
yang bahkan jika itu hanya sebuah tipuan…
Bukankah hidup itu sederhana?
Namun fokus itu telah menjadi
tatapan blur dari mata yang pernah menunjukkan kesederhanaan rasa.
Terasa lucu ketika tuntutan demi
tuntutan remeh temeh ini terbersit dalam benak, sedangkan itu sama sekali tidak
pernah menjadi suatu nilai berarti terhadap tersangkanya. Sungguh sayang ketika
kemudian waktu ini tercurah pada pemikiran yang tidak seharusnya.
Sungguh, ini hanyalah permintaan
standar seorang wanita…
Dan tentang wanita itu, saya
lebih tertarik dengan bagaimana seorang anak manusia menilai tentang bagaimana
seorang wanita. Wanita pada umumnya yang identik dengan kelemahlembutannya,
kecantikannya, busana-busana indah melekat di badannya, pernak-pernik menawan
yang menambah keleganannya, wangi-wangi yang menebar pesonanya, bedak dan
riasan yang tersaput di wajah cantiknya.
Begitulah perspektif standar pria
terhadap wanita, yang ternyata sangat disayangkan itu jauh dari perspektif
orang sekitar terhadap pola kehidupan saya. Sungguh disayangkan, namun ini
membuat saya tahu diri, bagaimana permintaan standar ku sebagai wanita
terpenuhi ketika perspektif standar pria terhadap wanita juga tidak memenuhi
kualifikasi padaku…
Jangan menelan tulisan ini
mentah-mentah, ini memang hanya analisis tolol lagi dari saya. Bukan berarti
kehidupan saya lantas akan berubah menjadi wanita yang pada umumnya. I will
just stay on my way, just the way I’m. Kalau mau dibahasa gaulkan, ‘ini gue,
dan beginilah gue!’.
Ekspektasi yang terlalu
berlebihan, hingga ber’andai-andai yang tidak semestinya. Tentang permasalahan
rasa seperti ini, permasalahan rasa yang sudah pasti banyak dirasa oleh
sebagian besar anak manusia, tentang hilangnya logika dan kenormalan yang
teramat normal, kini harus segera dikembalikan.
Mungkin tidak sekarang, mungkin
aku, kamu, dia , mereka tidak tahu, namun Tuhan selalu tahu kapan jawaban atas
segala tanya ini diberikan pada saat yang memang benar-benar tepat.
Kamu, si radio rusak yang pernah
tiba-tiba muncul pada frekuensiku,
dan kemudian mengganggu pada setiap malam
waktu istirahatku yang sempit,
dan diawali dari monolog hingga menjadi dialog,
dan juga banyak compang-camping dimana aku hanya mendengarkan cuplikan
lagu-lagu favoritmu meluncur dari frekuensi itu,
dan dari yang tidak ada
menjadi ada,
dan dari keanehan yang menjadi kebiasaan,
hingga akhirnya kamulah
satu-satunya radio rusak yang selalu aku tunggu di setiap ujung kelelahan di
malam hari untuk membuka setiap detail cerita yang siap didialogkan.
Begitulah tentang Radio Rusak
itu, sebelum pada akhirnya frekuensinya menghilang. Meski telah aku koyak-koyak
radio itu, aku pukul-pukul, bahkan aku elus-elus membujuknya kembali berbunyi
pada frekuensi itu, tapi nihil.
Begitulah tentang Radio Rusak
itu, yang kini sungguh sangat membuatku kangen.
Euforia mengenai Radio Rusak yang
tidak muncul lagi pada frekuensinya yang akan tetap aku tunggu kemunculannya, meski
tidak setiap saat, kini harus kembali pada kenormalan hidup yang akan dimulai
dengan keanehan yang suatu saat akan menjadi kebiasaan juga.