
Dan kemudian, sebuah monolog ini hanya akan berakhir pada bagian kecil dari ribuan bahkan jutaan tulisan yang terlahir dari kata hati manusia yang sedang sempat kehilangan arah dan sedang berusaha menguatkan langkah dengan alasan yang lebih kuat. Sungguh, tak akan habis kata yang bercucuran ketika kita berbicara tentang rasa. Meski tersengal dan terbata-bata, namun semua tetap akan terangkai dengan indah pada akhirnya. Semoga kita bisa menggunakan sudut pandang yang sesuai, dan semua tetap bisa dinikmati, seperti lembutnya brownies yang manis meski di dalamnya tersimpan rasa pahit.
It decide… Tentu saja aku selalu ingin menjadi orang pertama yang berdiri paling depan ketika masalah dan segala keresahan hadir di benakmu, namun tidak ada sebuah apresiasi darimu… Mungkin aku bukanlah tempat nyaman lagi bagimu, atau mungkin justru akulah ancaman itu… Seandainya saja isyarat itu cukup untuk menjelaskan semuanya, seandainya saja kamu tidak lambat…
Diam, dan teruslah berdiam… Dan kebisuan ini tetap tidak akan membuat kita mengerti, benang kusut ini hanya akan tetap seperti ini, tidak akan pernah bertemu antar ujungnya
Yah, telah diputuskan… tentang pertaruhan terakhirku, tidak berakhir dengan empat mata, dan hanya berakhir pada sekotak alat canggih bernama handphone, yang semakin lama mebuatku semakin muak. Alat ini memang sangat membantu dalam banyak hal, terutama komunikasi jarak jauh. Tapi bagaimana bisa semua diakhiri dengan tanpa menatap kedalaman mata mu, menilai kesungguhan kata dengan pikirmu hanya dengan kotak memuakkan itu? Namun begitulah yang kamu putuskan.
Lihat mataku, dan kau akan tahu seberapa dalam aku menderita. Dan aku ingin melihat bagaimana mata itu memandang mata yang sama-sama kelelahan ini… Perjumpaan itu, apa masih perlu sebuah alasan kuat untukmu?
Mungkin sudah terlampau sulit untuk bisa saling menguatkan, dan aku telah salah menganggap aku bisa banyak berbagi dengan kamu. Meski pada akhirnya kamu belum memilih. Semua yang mendadak biasa saja, meski tidak mudah, tetaplah bertahan dengan menjadi biasa. Berat menuliskan kata-kata selanjutnya, bahwa mungkin, jalan kita akan terpisah pada titik ini…
Kamu yang pernah menjadi alasan terkuat untukku menjadi sempurna,
Kamu yang pernah ada diujung kelelahanku,
Kamu yang pernah selalu menawarkan kenyamanan itu,
Kamu yang pernah menjadi satu-satunya alasan untukku tersenyum disaat terpahit itu,
Kamu yang mampu menguatkan ketika aku kehilangan,
Kamu yang pernah mengajari aku arti berbagi,
Kamu yang pernah memberi makna tersendiri dalam setiap waktuku,
Kamu yang telah menjadi potongan puzzle istimewaku…
Selalu ingatlah saat yang singkat namun manis ini… Tentang kamu, tentang aku, dan sepotong rasa yang mengingatkanku pada brownies yang lembut, manis dan sedikit pahit…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar