Me-Lo-Kopie
at Philokopie
Beberapa saat yang lalu, satu tahun lalu, atau
entahlah sejak kapan saya mulai merasakan metamorfosa dari rasa pahit kopi. Kopi
yang awalnya bagi saya hanya berasa pahit dan tidak menarik itu, ternyata bisa
berubah rasa. Jika dirasakan dengan benar, setelah rasa pahit kemudian akan
muncul rasa-rasa asam dari biji kopi.
Di sini saya tidak akan membahas tentang kopi itu
sendiri, namun dengan kesukaan saya terhadap kopi saat ini, ternyata si kopi
ini telah membawa saya pada tempat-tempat, saat-saat, dan teman-teman dengan
berbagai gaya.
Sempat beberapa tahun saya tinggal di Kota Berhati
Nyaman, Yogyakarta. Menyebut nama kota itu saja sudah membuat saya rindu J. Budaya nongkrong di malam hari yang larut bukanlah
budaya dari Yogyakarta, namun banyaknya kaum
urban di kota ini yang didominasi pelajar muda yang sering kali
memanfaatkan waktu malam mereka untuk kegiatan sosialisasi dan bertukar
pikiranlah yang menjadikan wajah kota Jogja di malam hari menjadi lumrah dengan
kegiatan nongkrong. Entah hanya dengan chit-chat di pinggir jalan sambil
menikmati lalu lalang kendaraan yang semakin larut semakin sepi, atau di
angkringan yang menyajikan makanan-makanan porsi kecil yang sangat terkenal
dengan nasi kucingnya, atau menikmati secangkir kopi di warung, lesehan, kedai
kopi sambil ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja yang hangat diperbincangkan
sampai kopi menjadi dingin.
Warung kopi dan sajian sederhana secangkir kopi yang
sudah tak terhitung banyaknya bagi saya ketika saya menghabiskan waktu
sosialita saya bersama kawan-kawan, sudah banyak juga cerita tentangnya. Awal
saya mengenal orang-orang baru di kota itu, ketika saya mulai sibuk berorganisasi,
ketika otak saya sedang kencang
merancang sebuah kegiatan-kegiatan besar, ketika saya mulai stuck dengan skripsi, ketika saya hanya
ingin menghabiskan waktu bersama teman, juga ketika saya berbunga-bunga karena
cinta.
Tempat ngopi yang sederhana, cukup ada lesehan atau
meja kursi, secangkir kopi, dan teman berbincang justru lebih cocok untuk
bertukar pikiran, membagi cerita dan menetaskan ide. Seperti salah satu warung
kopi sederhana dengan nama ‘Warung Kopi Manut’ yang sudah menjadi langganan
tempat organisasi kami merapatkan barisan untuk merumuskan sesuatu hal seputar
keorganisasian. Sudah menjadi kebiasaan ketika tiba-tiba muncul teror dari
warga sekitar yang dengan sengaja melempari atap warung kopi dengan batu-batu
kerikil ketika jam sudah menunjukkan pukul 24.00 ke atas. Kami memaklumi itu
sebagai alarm saja.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak warung
kopi yang berinovasi dengan menyediakan fasilitas WiFi. Semakin banyak penikmat
kopi dan nongkrong-ers membuat para pengusaha warung kopi di Jogja berlomba
membuat warung kopi semenarik mungkin dan salah satunya adalah menyediakan
fasilitas WiFi. Namun hal ini tidak membuat warung kopi sederhana seperti
“Manut” tereliminasi. Gaya para nongkrong-ers dalam menikmati secangkir kopi masih
saja bervariasi. Ketika mereka membutuhkan kualitas pembicaraan, justru warung
kopi sederhana bisa menjadi pilihan tepat. Ketika mereka perlu hiburan yang
bisa dinikmati bersama, warung kopi dengan layar lebar bisa menjadi pilihan
yang tepat misal untuk nobar pertandingan dan sebagainya. Ketika mereka
memerlukan fokus untuk bekerja dan memerlukan jaringan WiFi pilihan kedai kopi
dengan fasilitas tersebut sangatlah sesuai. Ada banyak pilihan tipe warung kopi
yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dompet.
Seperti salah satu kedai kopi yang beberapa waktu
lalu baru dibuka di sekitar kos saya, namanya “Philokopie”. Setting kedai ini
mengingatkan saya pada sebuah drama Korea ‘coffe prince’. Warung yang terletak
di pinggiran Jakal Km.5 ini menyediakan jenis kopi yang berbeda dari warung
kopi tempat saya biasa nongkrong. Warung kopi sederhana biasanya menyediakan
menu “kopi Nusantara”, sedangkan menu kopi di Philokopie lebih ke kopi modern
yang dibuat dengan mencampur dengan berbagai bahan yang match dengan sajian kopi itu. Salah satu menu kopi favorit saya
adalah Iced Coffe Frapilochino Mint. Sajian kopi sederhana biasanya ditarif
dengan harga yang lebih sederhana, sedangkan sajian kopi modern biasanya
ditarif dengan harga yang lebih rumit bagi mahasiswa. Namun dengan pertimbangan
satu gelas kopi nikmat dengan lokasi yang tersedia WiFi dan nongkrong sepuasnya
menikmati fasilitas internet sambil kerjain ini itu harga yang lebih rumitpun
menjadi masuk akal pada akhirnya J.
Kali itu saya bersama seorang laki-laki berdua di
kedai Philokopie, hanya untuk ... mmm, sebut saja menghabiskan waktu. Laki-laki
yang menyukai kesederhanaan itu aku tarik ke tempat yang sedikit tidak
sederhana. Laki-laki yang memiliki lesung pipi ketika tersenyum itu, dia bahkan
tidak protes. Kami menyebut diri kami sebagai “de holaholo-ers mate” karena
kami sering bersama menghabiskan waktu senggang kami paska wisuda dan di
sela-sela waktu mencari pekerjaan. Dan saat saya melihat mural yang ada di
ruang bagian dalam Philokopie, saya tersenyum. Entahlah, seperti sebuah
penerimaan dari kata-kata yang saya baca pada mural tersebut.
-There may be more beautiful times, but this one is
Ours. JP.Sartre –
Saya ingin memiliki waktu senggang bersama de
holaholoers mate saya selamanya, saya ingin memiliki those beautiful times bersamamu seterusnya. Ah, tapi itu hanya
keinginan sepihak. Saya sedih, pada suatu ketika tanpa bersama kopi panas,
laki-laki itu menceritakan masa depan yang dia rancang, namun tidak ada saya di
dalamnya. Saat itu, keinginan saya terjawab dengan dingin.