Minggu, 25 Mei 2014

Nama Kecil untuk Kamu...



KerropiChan dan Bona

Pertemanan, terkadang lebih terasa manis ketika memiliki hiasan kecil bertajuk nickname atau sebut sajalah nama kesayangan untuk masing-masing. Hal itu pada dasarnya sederhana, tidak memerlukan effort yang besar, apalagi alokasi dana khusus. Hanya spontanitas yang begitu saja terbersit dalam kepala masing-masing teman tentang apa yang representatif terhadap sifat atau ciri khas dari teman tersebut.
Dengan satu teman saya ini, namanya C. Tresna, kami menjadi teman setelah hampir 5 tahun mengenal satu sama lain hanya lewat wajah dan sapaan basa basi tak berarti saja. Kali itu melalui sebuah kegiatan, entah bagaimana seperti semua terjadi dengan mudahnya, kami saling mengenal dalam arti yang lebih dalam lagi. Kami sering berinteraksi, entah itu penting atau tidak. Kami sering berkomunikasi, entah itu langsung atau lewat media. Kami sering keluar bareng, entah dengan tujuan atau tanpa tujuan. Hingga akhirnya pada sebuah komunikasi melalui media, tiba-tiba saja tercetus sebuah nama panggilan untuk dia juga untuk saya. Kami sama-sama memiliki ketertarikan pada dunia satwa, dia menyukai dunia per-kodok-an dan saya menyukai dunia per-gajah-an. Yup... dari situlah kemudian kami memiliki nama kesayangan masing-masing.

Tokoh kodok yang lucu, bermata besar, berwarna ijo (ini adalah warna kesukaan saya), kodok ini bernama Kerropi, dengan sedikit memadukan nama Kerropi dengan namanya maka jadilah nicname KerropiChan (terkadang saya lebih sering memanggil dia Pichan biar lebih singkat). Dan untuk saya? Salah satu tokoh gajah imut berwarna pink (identik gajah cewe), yang memiliki banyak teman salah satunya bernama Rong-Rong, dan dengan segenap sifat-sifat baiknya (hehehe..nyari pembenaran), gajah ini bernama Bona (dia biasa hanya memanggil saya dengan Bon).
Bagi saya pribadi, nama kesayangan adalah sebuah harta karun bagi sebuah pertemanan ataupun persahabatan. Mengucapkan nama kesayangan kepada teman atau sahabat kita seolah telah membuka  password untuk bisa lebih cair dalam setiap interaksi. Dan sebuah kebahagiaan kecil ketika saya tahu bahwa hanya saya yang memanggil dia KerropiChan, dan hanya dia yang memanggil saya Bona.
Hal kecil ini istimewa, tapi sesuatu yang istimewa itu akan memudar keistimewaannya ketika terlalu banyak hal yang istimewa. Jadi, tidak semua teman atau sahabat itu perlu  diberi nicname untuk menjaga keistimewaan nickname yang telah kita buat kan?
For my last quote,
Sssssttt... keep secret yaa...rahasia kecil ini hanya untuk kita.. ^-^

Senin, 19 Mei 2014

Me-Lo-Kopie at Philokopie



Me-Lo-Kopie
at Philokopie
Beberapa saat yang lalu, satu tahun lalu, atau entahlah sejak kapan saya mulai merasakan metamorfosa dari rasa pahit kopi. Kopi yang awalnya bagi saya hanya berasa pahit dan tidak menarik itu, ternyata bisa berubah rasa. Jika dirasakan dengan benar, setelah rasa pahit kemudian akan muncul rasa-rasa asam dari biji kopi.
Di sini saya tidak akan membahas tentang kopi itu sendiri, namun dengan kesukaan saya terhadap kopi saat ini, ternyata si kopi ini telah membawa saya pada tempat-tempat, saat-saat, dan teman-teman dengan berbagai gaya.
Sempat beberapa tahun saya tinggal di Kota Berhati Nyaman, Yogyakarta. Menyebut nama kota itu saja sudah membuat saya rindu J. Budaya nongkrong di malam hari yang larut bukanlah budaya dari Yogyakarta, namun banyaknya kaum  urban di kota ini yang didominasi pelajar muda yang sering kali memanfaatkan waktu malam mereka untuk kegiatan sosialisasi dan bertukar pikiranlah yang menjadikan wajah kota Jogja di malam hari menjadi lumrah dengan kegiatan nongkrong. Entah hanya dengan chit-chat di pinggir jalan sambil menikmati lalu lalang kendaraan yang semakin larut semakin sepi, atau di angkringan yang menyajikan makanan-makanan porsi kecil yang sangat terkenal dengan nasi kucingnya, atau menikmati secangkir kopi di warung, lesehan, kedai kopi sambil ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja yang hangat diperbincangkan sampai kopi menjadi dingin.
Warung kopi dan sajian sederhana secangkir kopi yang sudah tak terhitung banyaknya bagi saya ketika saya menghabiskan waktu sosialita saya bersama kawan-kawan, sudah banyak juga cerita tentangnya. Awal saya mengenal orang-orang baru di kota itu, ketika saya mulai sibuk berorganisasi, ketika otak saya sedang kencang  merancang sebuah kegiatan-kegiatan besar, ketika saya mulai stuck dengan skripsi, ketika saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama teman, juga ketika saya berbunga-bunga karena cinta.
Tempat ngopi yang sederhana, cukup ada lesehan atau meja kursi, secangkir kopi, dan teman berbincang justru lebih cocok untuk bertukar pikiran, membagi cerita dan menetaskan ide. Seperti salah satu warung kopi sederhana dengan nama ‘Warung Kopi Manut’ yang sudah menjadi langganan tempat organisasi kami merapatkan barisan untuk merumuskan sesuatu hal seputar keorganisasian. Sudah menjadi kebiasaan ketika tiba-tiba muncul teror dari warga sekitar yang dengan sengaja melempari atap warung kopi dengan batu-batu kerikil ketika jam sudah menunjukkan pukul 24.00 ke atas. Kami memaklumi itu sebagai alarm saja.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak warung kopi yang berinovasi dengan menyediakan fasilitas WiFi. Semakin banyak penikmat kopi dan nongkrong-ers membuat para pengusaha warung kopi di Jogja berlomba membuat warung kopi semenarik mungkin dan salah satunya adalah menyediakan fasilitas WiFi. Namun hal ini tidak membuat warung kopi sederhana seperti “Manut” tereliminasi. Gaya para nongkrong-ers dalam menikmati secangkir kopi masih saja bervariasi. Ketika mereka membutuhkan kualitas pembicaraan, justru warung kopi sederhana bisa menjadi pilihan tepat. Ketika mereka perlu hiburan yang bisa dinikmati bersama, warung kopi dengan layar lebar bisa menjadi pilihan yang tepat misal untuk nobar pertandingan dan sebagainya. Ketika mereka memerlukan fokus untuk bekerja dan memerlukan jaringan WiFi pilihan kedai kopi dengan fasilitas tersebut sangatlah sesuai. Ada banyak pilihan tipe warung kopi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dompet.
Seperti salah satu kedai kopi yang beberapa waktu lalu baru dibuka di sekitar kos saya, namanya “Philokopie”. Setting kedai ini mengingatkan saya pada sebuah drama Korea ‘coffe prince’. Warung yang terletak di pinggiran Jakal Km.5 ini menyediakan jenis kopi yang berbeda dari warung kopi tempat saya biasa nongkrong. Warung kopi sederhana biasanya menyediakan menu “kopi Nusantara”, sedangkan menu kopi di Philokopie lebih ke kopi modern yang dibuat dengan mencampur dengan berbagai bahan yang match dengan sajian kopi itu. Salah satu menu kopi favorit saya adalah Iced Coffe Frapilochino Mint. Sajian kopi sederhana biasanya ditarif dengan harga yang lebih sederhana, sedangkan sajian kopi modern biasanya ditarif dengan harga yang lebih rumit bagi mahasiswa. Namun dengan pertimbangan satu gelas kopi nikmat dengan lokasi yang tersedia WiFi dan nongkrong sepuasnya menikmati fasilitas internet sambil kerjain ini itu harga yang lebih rumitpun menjadi masuk akal pada akhirnya J.
Kali itu saya bersama seorang laki-laki berdua di kedai Philokopie, hanya untuk ... mmm, sebut saja menghabiskan waktu. Laki-laki yang menyukai kesederhanaan itu aku tarik ke tempat yang sedikit tidak sederhana. Laki-laki yang memiliki lesung pipi ketika tersenyum itu, dia bahkan tidak protes. Kami menyebut diri kami sebagai “de holaholo-ers mate” karena kami sering bersama menghabiskan waktu senggang kami paska wisuda dan di sela-sela waktu mencari pekerjaan. Dan saat saya melihat mural yang ada di ruang bagian dalam Philokopie, saya tersenyum. Entahlah, seperti sebuah penerimaan dari kata-kata yang saya baca pada mural tersebut.
-There may be more beautiful times, but this one is Ours. JP.Sartre –
Saya ingin memiliki waktu senggang bersama de holaholoers mate saya selamanya, saya ingin memiliki those beautiful times bersamamu seterusnya. Ah, tapi itu hanya keinginan sepihak. Saya sedih, pada suatu ketika tanpa bersama kopi panas, laki-laki itu menceritakan masa depan yang dia rancang, namun tidak ada saya di dalamnya. Saat itu, keinginan saya terjawab dengan dingin.

Minggu, 18 Mei 2014

Dia Diam di Sudut Keramaian



Sunday Morning atau berarti minggu pagi, sebutan Sunmor sudah tidak asing bagi penduduk sekitar kampus UGM. Sunmor bukan hanya sebuah keterangan waktu sebagai suatu pagi di hari minggu, melainkan sebuah pasar di hari minggu pagi. Pasar ini semacam pasar dadakan yang biasanya terletak di lembah UGM atau di sepanjang jalan batas antara lembah UGM dengan UNY.
Pasar dadakan ini menampung pertemuan segala macam orang dengan berbagai keperluan. Mahasiswa mahasiswi yang sedang sibuk penggalangan dana kegiatan tak jarang terlihat menjajakan barang dagangan atau mengamen dalam kelompok besar, atau mereka yang hanya ingin jalan santai menikmati keramaian Sunmor sambil ngecengin barang-barang fashion, keperluan kos dan jajanan makanan sepanjang sunmor yang terkenal dengan harga yang lebih miring. Keluarga yang tinggal di sekitar Sunmor pun tak mau kalah mendatangi pasar pagi ini, entah sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga sambil menikmati jajanan Sunmor atau memang ingin mencari sesuatu. Komponen selanjutnya yang tentunya sangat memberi pengaruh terhadap kelengkapan Sunmor adalah para pedagang. Sangat bervariatif dan kreatif dari waktu ke waktu, begitulah kesan yang saya tangkap dalam beberapa kurun waktu saya menjadi penikmat Sunmor.
Di Sunmor kita bisa menemui pedagang bermacam-macam barang dan jasa, mulai dari keperluan primer, sekunder, dan tersier. Karena lokasinya memang di sekitar kampus, UGM dan UNY, maka fokus dari para penjual adalah kebutuhan mahasiswa. Mulai dari keperluan kos, seperti perangkat tidur:bantal,guling,sprei, hiasan dinding kos, korden, gantungan pintu, pigura foto, dan sebagainya yang kalau saya sebutkan satu per satu mungkin saya bisa menyediakan jasa pembuatan katalog barang yang tersedia di Pasar Sunmor. Selanjutnya adalah keperluan fashion dari mahasiswa, berbagai macam pakaian dari yang santai, semi formal, sampai yang formal. Berbagai pernak pernik penghias dan pelengkap fashion, sepatu-sandal, tas, juga barang-barang hobi seperti tanaman, ikan-ikan, mainan, dan sebagainya. Satu lagi adalah adanya berbagai macam jajanan, mulai dari jajanan ringan hingga jajanan berat untuk mengisi waktu sarapan para pelanggan Sunmor.
Pagi hari itu, saya pergi ke Sunmor bersama Wulan. Tidak ada tujuan khusus kali ini, hanya ingin menghabiskan waktu pagi dengan beraktivitas, dan kami memilih menikmati keramaian Sunmor. Update harga dan barang yang dijual di sunmor pun juga menyenangkan bagi kami, kalaupun kali ini tidak membeli, kami bisa merancang anggaran dengan mengetahui harga barang serta ketersediaan barang dengan barang apa yang sedang kami perlukan. Mungkin seperti inilah sudut pandang kami para wanita, kenapa kami suka berlama-lama berbelanja . Setelah memutari Sunmor, terasa juga rasa capek ini, mata saya ini suka sedikit manja kalau melihat kerumunan orang yang terlalu padat ditambah warna warni barang yang minta diperhatikan satu per satu itu. Total sudah capek mata, capek kaki, lapar mata dan lapar perut. Kami pun memilih membeli jajanan ringan dan berhenti di salah satu pedagang minuman.
Sambil ngobrol kesana kemari, saya memperhatikan seorang penjual di sudut seberang tempat saya istirahat. Bapak separuh baya itu menjual mainan tradisional. Mungkin sudah lelah, atau entah apa yang Bapak itu pikirkan, saya melihat Bapak itu terlihat kurang bersemangat. Diantara lalu lalang orang, seperti sedang terlewat begitu saja, Bapak itu seperti tidak dihiraukan para pelancong. Entahlah, saya kurang mampu menyimpulkan dengan tegas, hanya tanya saja yang kemudian ada “apakah di jaman yang serba elektronik seperti ini sudah tidak ada yang tertarik dengan permainan tradisional yang dijual oleh Bapak ini?”. Saya lupa bercerita, Bapak ini menjual gangsing dan seruling kecil dari bahan bambu. Dulu ketika masa kanak-kanak saya, bermain mainan dari bambu tesebut sudah cukup menyenangkan, apakah sekarang sudah terjadi pergeseran masa?  Yap, memang masa saya dan masa sekarang bisa jadi tidak sama, dan seiring waktu yang  berjalan pun semua hal akan banyak berubah, tidak bisa tetap sama. Hanya saja pribadi saya merasa sayang ketika semua kenangan saya akan mainan-mainan masa kanak-kanak saya itu hanya membeku sebagai kenangan indah yang kelak hanya bisa saya ceritakan kepada generasi saya. Begitu klasik dan terdengar seperti orang tua yang begitu konservatif ya..
Dari sini, saya mencoba menciptakan sebuah cita-cita untuk anak saya kelak (duh,jauh kali mikirnya.. ) saya akan mengenalkan segala jenis mainan kepada anak saya, dan membiarkan dia memilih salah satu yang tepat untuknya supaya daya imaji dia berkembang dengan baik. Dan jalan-jalan Sunmor kali ini berakhir dengan membeli seruling bambu Bapak yang diam di sudut keramaian Sunmor.