Senin, 19 Mei 2014

Me-Lo-Kopie at Philokopie



Me-Lo-Kopie
at Philokopie
Beberapa saat yang lalu, satu tahun lalu, atau entahlah sejak kapan saya mulai merasakan metamorfosa dari rasa pahit kopi. Kopi yang awalnya bagi saya hanya berasa pahit dan tidak menarik itu, ternyata bisa berubah rasa. Jika dirasakan dengan benar, setelah rasa pahit kemudian akan muncul rasa-rasa asam dari biji kopi.
Di sini saya tidak akan membahas tentang kopi itu sendiri, namun dengan kesukaan saya terhadap kopi saat ini, ternyata si kopi ini telah membawa saya pada tempat-tempat, saat-saat, dan teman-teman dengan berbagai gaya.
Sempat beberapa tahun saya tinggal di Kota Berhati Nyaman, Yogyakarta. Menyebut nama kota itu saja sudah membuat saya rindu J. Budaya nongkrong di malam hari yang larut bukanlah budaya dari Yogyakarta, namun banyaknya kaum  urban di kota ini yang didominasi pelajar muda yang sering kali memanfaatkan waktu malam mereka untuk kegiatan sosialisasi dan bertukar pikiranlah yang menjadikan wajah kota Jogja di malam hari menjadi lumrah dengan kegiatan nongkrong. Entah hanya dengan chit-chat di pinggir jalan sambil menikmati lalu lalang kendaraan yang semakin larut semakin sepi, atau di angkringan yang menyajikan makanan-makanan porsi kecil yang sangat terkenal dengan nasi kucingnya, atau menikmati secangkir kopi di warung, lesehan, kedai kopi sambil ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja yang hangat diperbincangkan sampai kopi menjadi dingin.
Warung kopi dan sajian sederhana secangkir kopi yang sudah tak terhitung banyaknya bagi saya ketika saya menghabiskan waktu sosialita saya bersama kawan-kawan, sudah banyak juga cerita tentangnya. Awal saya mengenal orang-orang baru di kota itu, ketika saya mulai sibuk berorganisasi, ketika otak saya sedang kencang  merancang sebuah kegiatan-kegiatan besar, ketika saya mulai stuck dengan skripsi, ketika saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama teman, juga ketika saya berbunga-bunga karena cinta.
Tempat ngopi yang sederhana, cukup ada lesehan atau meja kursi, secangkir kopi, dan teman berbincang justru lebih cocok untuk bertukar pikiran, membagi cerita dan menetaskan ide. Seperti salah satu warung kopi sederhana dengan nama ‘Warung Kopi Manut’ yang sudah menjadi langganan tempat organisasi kami merapatkan barisan untuk merumuskan sesuatu hal seputar keorganisasian. Sudah menjadi kebiasaan ketika tiba-tiba muncul teror dari warga sekitar yang dengan sengaja melempari atap warung kopi dengan batu-batu kerikil ketika jam sudah menunjukkan pukul 24.00 ke atas. Kami memaklumi itu sebagai alarm saja.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak warung kopi yang berinovasi dengan menyediakan fasilitas WiFi. Semakin banyak penikmat kopi dan nongkrong-ers membuat para pengusaha warung kopi di Jogja berlomba membuat warung kopi semenarik mungkin dan salah satunya adalah menyediakan fasilitas WiFi. Namun hal ini tidak membuat warung kopi sederhana seperti “Manut” tereliminasi. Gaya para nongkrong-ers dalam menikmati secangkir kopi masih saja bervariasi. Ketika mereka membutuhkan kualitas pembicaraan, justru warung kopi sederhana bisa menjadi pilihan tepat. Ketika mereka perlu hiburan yang bisa dinikmati bersama, warung kopi dengan layar lebar bisa menjadi pilihan yang tepat misal untuk nobar pertandingan dan sebagainya. Ketika mereka memerlukan fokus untuk bekerja dan memerlukan jaringan WiFi pilihan kedai kopi dengan fasilitas tersebut sangatlah sesuai. Ada banyak pilihan tipe warung kopi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dompet.
Seperti salah satu kedai kopi yang beberapa waktu lalu baru dibuka di sekitar kos saya, namanya “Philokopie”. Setting kedai ini mengingatkan saya pada sebuah drama Korea ‘coffe prince’. Warung yang terletak di pinggiran Jakal Km.5 ini menyediakan jenis kopi yang berbeda dari warung kopi tempat saya biasa nongkrong. Warung kopi sederhana biasanya menyediakan menu “kopi Nusantara”, sedangkan menu kopi di Philokopie lebih ke kopi modern yang dibuat dengan mencampur dengan berbagai bahan yang match dengan sajian kopi itu. Salah satu menu kopi favorit saya adalah Iced Coffe Frapilochino Mint. Sajian kopi sederhana biasanya ditarif dengan harga yang lebih sederhana, sedangkan sajian kopi modern biasanya ditarif dengan harga yang lebih rumit bagi mahasiswa. Namun dengan pertimbangan satu gelas kopi nikmat dengan lokasi yang tersedia WiFi dan nongkrong sepuasnya menikmati fasilitas internet sambil kerjain ini itu harga yang lebih rumitpun menjadi masuk akal pada akhirnya J.
Kali itu saya bersama seorang laki-laki berdua di kedai Philokopie, hanya untuk ... mmm, sebut saja menghabiskan waktu. Laki-laki yang menyukai kesederhanaan itu aku tarik ke tempat yang sedikit tidak sederhana. Laki-laki yang memiliki lesung pipi ketika tersenyum itu, dia bahkan tidak protes. Kami menyebut diri kami sebagai “de holaholo-ers mate” karena kami sering bersama menghabiskan waktu senggang kami paska wisuda dan di sela-sela waktu mencari pekerjaan. Dan saat saya melihat mural yang ada di ruang bagian dalam Philokopie, saya tersenyum. Entahlah, seperti sebuah penerimaan dari kata-kata yang saya baca pada mural tersebut.
-There may be more beautiful times, but this one is Ours. JP.Sartre –
Saya ingin memiliki waktu senggang bersama de holaholoers mate saya selamanya, saya ingin memiliki those beautiful times bersamamu seterusnya. Ah, tapi itu hanya keinginan sepihak. Saya sedih, pada suatu ketika tanpa bersama kopi panas, laki-laki itu menceritakan masa depan yang dia rancang, namun tidak ada saya di dalamnya. Saat itu, keinginan saya terjawab dengan dingin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar