Minggu, 18 Mei 2014

Dia Diam di Sudut Keramaian



Sunday Morning atau berarti minggu pagi, sebutan Sunmor sudah tidak asing bagi penduduk sekitar kampus UGM. Sunmor bukan hanya sebuah keterangan waktu sebagai suatu pagi di hari minggu, melainkan sebuah pasar di hari minggu pagi. Pasar ini semacam pasar dadakan yang biasanya terletak di lembah UGM atau di sepanjang jalan batas antara lembah UGM dengan UNY.
Pasar dadakan ini menampung pertemuan segala macam orang dengan berbagai keperluan. Mahasiswa mahasiswi yang sedang sibuk penggalangan dana kegiatan tak jarang terlihat menjajakan barang dagangan atau mengamen dalam kelompok besar, atau mereka yang hanya ingin jalan santai menikmati keramaian Sunmor sambil ngecengin barang-barang fashion, keperluan kos dan jajanan makanan sepanjang sunmor yang terkenal dengan harga yang lebih miring. Keluarga yang tinggal di sekitar Sunmor pun tak mau kalah mendatangi pasar pagi ini, entah sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga sambil menikmati jajanan Sunmor atau memang ingin mencari sesuatu. Komponen selanjutnya yang tentunya sangat memberi pengaruh terhadap kelengkapan Sunmor adalah para pedagang. Sangat bervariatif dan kreatif dari waktu ke waktu, begitulah kesan yang saya tangkap dalam beberapa kurun waktu saya menjadi penikmat Sunmor.
Di Sunmor kita bisa menemui pedagang bermacam-macam barang dan jasa, mulai dari keperluan primer, sekunder, dan tersier. Karena lokasinya memang di sekitar kampus, UGM dan UNY, maka fokus dari para penjual adalah kebutuhan mahasiswa. Mulai dari keperluan kos, seperti perangkat tidur:bantal,guling,sprei, hiasan dinding kos, korden, gantungan pintu, pigura foto, dan sebagainya yang kalau saya sebutkan satu per satu mungkin saya bisa menyediakan jasa pembuatan katalog barang yang tersedia di Pasar Sunmor. Selanjutnya adalah keperluan fashion dari mahasiswa, berbagai macam pakaian dari yang santai, semi formal, sampai yang formal. Berbagai pernak pernik penghias dan pelengkap fashion, sepatu-sandal, tas, juga barang-barang hobi seperti tanaman, ikan-ikan, mainan, dan sebagainya. Satu lagi adalah adanya berbagai macam jajanan, mulai dari jajanan ringan hingga jajanan berat untuk mengisi waktu sarapan para pelanggan Sunmor.
Pagi hari itu, saya pergi ke Sunmor bersama Wulan. Tidak ada tujuan khusus kali ini, hanya ingin menghabiskan waktu pagi dengan beraktivitas, dan kami memilih menikmati keramaian Sunmor. Update harga dan barang yang dijual di sunmor pun juga menyenangkan bagi kami, kalaupun kali ini tidak membeli, kami bisa merancang anggaran dengan mengetahui harga barang serta ketersediaan barang dengan barang apa yang sedang kami perlukan. Mungkin seperti inilah sudut pandang kami para wanita, kenapa kami suka berlama-lama berbelanja . Setelah memutari Sunmor, terasa juga rasa capek ini, mata saya ini suka sedikit manja kalau melihat kerumunan orang yang terlalu padat ditambah warna warni barang yang minta diperhatikan satu per satu itu. Total sudah capek mata, capek kaki, lapar mata dan lapar perut. Kami pun memilih membeli jajanan ringan dan berhenti di salah satu pedagang minuman.
Sambil ngobrol kesana kemari, saya memperhatikan seorang penjual di sudut seberang tempat saya istirahat. Bapak separuh baya itu menjual mainan tradisional. Mungkin sudah lelah, atau entah apa yang Bapak itu pikirkan, saya melihat Bapak itu terlihat kurang bersemangat. Diantara lalu lalang orang, seperti sedang terlewat begitu saja, Bapak itu seperti tidak dihiraukan para pelancong. Entahlah, saya kurang mampu menyimpulkan dengan tegas, hanya tanya saja yang kemudian ada “apakah di jaman yang serba elektronik seperti ini sudah tidak ada yang tertarik dengan permainan tradisional yang dijual oleh Bapak ini?”. Saya lupa bercerita, Bapak ini menjual gangsing dan seruling kecil dari bahan bambu. Dulu ketika masa kanak-kanak saya, bermain mainan dari bambu tesebut sudah cukup menyenangkan, apakah sekarang sudah terjadi pergeseran masa?  Yap, memang masa saya dan masa sekarang bisa jadi tidak sama, dan seiring waktu yang  berjalan pun semua hal akan banyak berubah, tidak bisa tetap sama. Hanya saja pribadi saya merasa sayang ketika semua kenangan saya akan mainan-mainan masa kanak-kanak saya itu hanya membeku sebagai kenangan indah yang kelak hanya bisa saya ceritakan kepada generasi saya. Begitu klasik dan terdengar seperti orang tua yang begitu konservatif ya..
Dari sini, saya mencoba menciptakan sebuah cita-cita untuk anak saya kelak (duh,jauh kali mikirnya.. ) saya akan mengenalkan segala jenis mainan kepada anak saya, dan membiarkan dia memilih salah satu yang tepat untuknya supaya daya imaji dia berkembang dengan baik. Dan jalan-jalan Sunmor kali ini berakhir dengan membeli seruling bambu Bapak yang diam di sudut keramaian Sunmor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar