Sunday Morning atau berarti minggu pagi, sebutan Sunmor sudah tidak asing bagi penduduk sekitar kampus UGM. Sunmor bukan hanya sebuah keterangan waktu sebagai suatu pagi di hari minggu, melainkan sebuah pasar di hari minggu pagi. Pasar ini semacam pasar dadakan yang biasanya terletak di lembah UGM atau di sepanjang jalan batas antara lembah UGM dengan UNY.
Pasar
dadakan ini menampung pertemuan segala macam orang dengan berbagai keperluan. Mahasiswa
mahasiswi yang sedang sibuk penggalangan dana kegiatan tak jarang terlihat
menjajakan barang dagangan atau mengamen dalam kelompok besar, atau mereka yang
hanya ingin jalan santai menikmati keramaian Sunmor sambil ngecengin
barang-barang fashion, keperluan kos dan jajanan makanan sepanjang sunmor yang
terkenal dengan harga yang lebih miring. Keluarga yang tinggal di sekitar
Sunmor pun tak mau kalah mendatangi pasar pagi ini, entah sekedar menghabiskan
waktu bersama keluarga sambil menikmati jajanan Sunmor atau memang ingin
mencari sesuatu. Komponen selanjutnya yang tentunya sangat memberi pengaruh
terhadap kelengkapan Sunmor adalah para pedagang. Sangat bervariatif dan
kreatif dari waktu ke waktu, begitulah kesan yang saya tangkap dalam beberapa
kurun waktu saya menjadi penikmat Sunmor.
Di
Sunmor kita bisa menemui pedagang bermacam-macam barang dan jasa, mulai dari
keperluan primer, sekunder, dan tersier. Karena lokasinya memang di sekitar
kampus, UGM dan UNY, maka fokus dari para penjual adalah kebutuhan mahasiswa.
Mulai dari keperluan kos, seperti perangkat tidur:bantal,guling,sprei, hiasan
dinding kos, korden, gantungan pintu, pigura foto, dan sebagainya yang kalau
saya sebutkan satu per satu mungkin saya bisa menyediakan jasa pembuatan
katalog barang yang tersedia di Pasar Sunmor. Selanjutnya adalah keperluan
fashion dari mahasiswa, berbagai macam pakaian dari yang santai, semi formal,
sampai yang formal. Berbagai pernak pernik penghias dan pelengkap fashion,
sepatu-sandal, tas, juga barang-barang hobi seperti tanaman, ikan-ikan, mainan,
dan sebagainya. Satu lagi adalah adanya berbagai macam jajanan, mulai dari
jajanan ringan hingga jajanan berat untuk mengisi waktu sarapan para pelanggan
Sunmor.
Pagi
hari itu, saya pergi ke Sunmor bersama Wulan. Tidak ada tujuan khusus kali ini,
hanya ingin menghabiskan waktu pagi dengan beraktivitas, dan kami memilih
menikmati keramaian Sunmor. Update harga dan barang yang dijual di sunmor pun
juga menyenangkan bagi kami, kalaupun kali ini tidak membeli, kami bisa
merancang anggaran dengan mengetahui harga barang serta ketersediaan barang
dengan barang apa yang sedang kami perlukan. Mungkin seperti inilah sudut
pandang kami para wanita, kenapa kami suka berlama-lama berbelanja .
Setelah memutari Sunmor, terasa juga rasa capek ini, mata saya ini suka sedikit
manja kalau melihat kerumunan orang yang terlalu padat ditambah warna warni
barang yang minta diperhatikan satu per satu itu. Total sudah capek mata, capek
kaki, lapar mata dan lapar perut. Kami pun memilih membeli jajanan ringan dan
berhenti di salah satu pedagang minuman.
Sambil ngobrol kesana kemari,
saya memperhatikan seorang penjual di sudut seberang tempat saya istirahat.
Bapak separuh baya itu menjual mainan tradisional. Mungkin sudah lelah, atau
entah apa yang Bapak itu pikirkan, saya melihat Bapak itu terlihat kurang
bersemangat. Diantara lalu lalang orang, seperti sedang terlewat begitu saja,
Bapak itu seperti tidak dihiraukan para pelancong. Entahlah, saya kurang mampu
menyimpulkan dengan tegas, hanya tanya saja yang kemudian ada “apakah di jaman
yang serba elektronik seperti ini sudah tidak ada yang tertarik dengan
permainan tradisional yang dijual oleh Bapak ini?”. Saya lupa bercerita, Bapak
ini menjual gangsing dan seruling kecil dari bahan bambu. Dulu ketika masa
kanak-kanak saya, bermain mainan dari bambu tesebut sudah cukup menyenangkan,
apakah sekarang sudah terjadi pergeseran masa?
Yap, memang masa saya dan masa sekarang bisa jadi tidak sama, dan
seiring waktu yang berjalan pun semua
hal akan banyak berubah, tidak bisa tetap sama. Hanya saja pribadi saya merasa
sayang ketika semua kenangan saya akan mainan-mainan masa kanak-kanak saya itu
hanya membeku sebagai kenangan indah yang kelak hanya bisa saya ceritakan
kepada generasi saya. Begitu klasik dan terdengar seperti orang tua yang begitu
konservatif ya..
Dari
sini, saya mencoba menciptakan sebuah cita-cita untuk anak saya kelak (duh,jauh
kali mikirnya.. ) saya akan mengenalkan segala jenis mainan kepada
anak saya, dan membiarkan dia memilih salah satu yang tepat untuknya supaya
daya imaji dia berkembang dengan baik. Dan jalan-jalan Sunmor kali ini berakhir
dengan membeli seruling bambu Bapak yang diam di sudut keramaian Sunmor.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar