Kamis, 06 Agustus 2015

Bersama Hujan...



Bersama Mister Alpha..
Kala itu Rinai masih menikmati masa Sekolah Menengah Atas, dan dia sedang mengagumi seorang laki-laki bernama Alpha. Sebuah organisasi di sekolah mereka membuat intensitas pertemuan Rinai dan Alpha meningkat. Di sebuah sore, setelah kegiatan organisasi, Rinai dan Alpha berencana pergi berdua menuju sebuah Warung Internet di sekitar sekolah mereka. Tanpa alasan, tanpa tujuan tertentu, mungkin hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja. Di usia itu, tidak banyak yang bisa dipahami oleh Rinai mengenai segala jenis tanda-tanda dan cara menunjukkan rasa suka kepada Alpha. Rinai, gadis remaja  ini hanya merasa senang ketika dia dibonceng di belakang sepeda Alpha, melintasi lapangan upacara sekolah yang dikelilingi pohon bungur, yang sedang tertiup angin dan menggugurkan bunga ungunya. Dan tak lama dari itu, ketika mereka hampir sampai di tempat tujuan, datanglah hujan yang tiba-tiba menderas. Tubuh Alpha yang jangkung dan bidang itu, menutupi Rinai sehingga dia tidak terkena air hujan. Di atas sepeda Alpha, di belakang boncengan Alpha, Rinai tersenyum bersyukur hujan ini datang di saat yang tepat. Hujan dan para pohon Bungur, bisakah saat itu membeku begitu saja, batin Rinai berharap.
Masih bersama Mister Alpha, selepas festival sekolah, Rinai merencanakan sebuah perjalanan kecil semacam camping ceria di perkebunan teh di dekat rumahnya. Kali ini sedikit berbeda, Mister Alpha telah memiliki seorang wanita sebagai kekasihnya. Rinai menunggu di depan gerbang sekolahnya, menunggu Alpha berpamitan kepada wanitanya. Rinai menyadari tentang rasa yang dimilikinya terhadap Alpha, namun dia sungguh hanya ahli dalam menyimpannya. Ah, Rinai hanya ingin membuat kenangan sebanyak mungkin dengan Alpha, tidak peduli rasa apa yang dimiliki Alpha untuknya. Dan mereka pergi ke kebun teh. Di sebuah kampung dalam perjalanan menuju kebun, lagi-lagi hujan itu luruh  ke bumi. Alpha mengeluarkan selembar matras, dan membentangkannya di atas kepala mereka berdua. Rinai, seperti sebelumnya, tersenyum malu dan kembali mengharap waktu berhenti pada masa itu. Bahkan anak kecil yang sedang menikmati hujan di kampung itu mampu melihat betapa eloknya mereka berdua sebagai sepasang kekasih.
Rinai, mereka bilang kita sedang pacaran...” ujar Alpha.
Rinai, hanya mengembangkan tawanya. Tawa untuk meredam rasa yang membuncah saat itu.
Hujan, membuat Rinai memiliki Mister Alpha, meski itu hanya berhenti pada sebuah kenangan. Mister Alpha telah memilih jalan yang hingga kini tidak pernah lagi bersinggungan dengan Rinai. Sedangkan Rinai, masih saja menunggu hujan selanjutnya untuk membuat kenangan baru.
Bersama Mister Phi...
Rinai beranjak dewasa, begitu banyak kesibukan dunia perkuliahan dan kegiatan organisasi yang menghiasi hari-harinya. Dunia pertemanan Rinai yang semakin meluas, membuatnya mengenal satu lelaki pembawa korek api, Mister Phi. Lelaki ini juga masih di bangku perkuliahan, namun mereka berada di belahan kota yang berbeda. Pertemanan mereka kemudian menjadi sebuah hubungan yang dianggap Rinai sebagai sebuah hubungan Wanita dan Pria. Jarak jauh, tak menghalangi mekarnya rasa diantara mereka. Setiap perjuangan yang dilakukan untuk menghapus jarak bagi keduanya adalah hal yang indah.
Rinai, kala itu sedang menuliskan setiap rasa yang muncul bersama Phi di dalam buku catatan kecilnya. Dia duduk di ayunan (hammock) di teras rumah Phi, sambil menikmati hujan dan lantunan musik. Rinai sedang terjadwal mengunjungi Phi di kotanya. Diam-diam Rinai menunggu kehadiran Phi, dan teras adalah tempat menunggu yang paling menyenangkan, teras akan lebih memudahkan Rinai mengenali kedatangan Phi. Sedang Phi, yang saat itu begitu sibuk dengan berbagai proyek dan perkuliahannya, terlihat berjalan dari salah satu ujung teras. Rinai menutup buku catatannya, melihat Phi datang ke arahnya dengan tubuh kurus jangkungnya mengenakan kemeja putih dengan lengan dilipat sesiku, celana jeans, sepatu lapangan, dan tas day pack di punggungnya. Phi, datang menyembunyikan segenap kelelahanya ke dalam senyum indahnya. Phi menyentuh pundak Rinai, dan kemudian duduk berhimpitan dengan Rinai, berdua menikmati hujan. Tidak banyak yang mereka perbincangkan, hingga Phi merebahkan kelelahannya berbaring di pangkuan Rinai. Masih saja bersama Hujan.
Rinai dan Phi, tidak lagi memiliki perjumpaan bersama hujan seperti kala lampau. Meski Rinai ingin menikmati hujan di masa depanya bersama Phi, namun Rinai dipaksa menyerah pada sebuah pilihan yang telah diambil oleh Phi. Hujan, kembali memberikan Phi kepada Rinai, meski masih saja berhenti pada sebuah kenangan.
Bersama Mister Surya...
Rinai pada masa yang lebih lanjut, Rinai yang agaknya jauh lebih memahami sulitnya menjalani kehidupan. Dia sedang berada pada masa mencoba bertangungjawab terhadap dirinya sendiri, pun keluarganya di kampung. Peliknya kehidupan membuat dia mengesampingkan urusan hati, terlepas dari rasa lelah hati Rinai terhadap Mister Phi.
Sudah cukup lama Rinai tidak jatuh hati, hingga dia bergabung pada sebuah proyek pengambilan data. Seorang lelaki bernama Surya, kakak tingkat Rinai di bangku perkuliahan, entah kenapa selalu mengulurkan tangannya kepada Rinai. Dan, Rinai yang hampir-hampir lupa tentang bagaimana tersenyum, kembali menemukan jalan kembali bahagia bersama Surya. Setiap kekosongan diantara mereka saling terisi satu sama lain. Tidak mudah bagi Rinai untuk mengakui bahwa dia memiliki rasa pada Surya, pun Surya tidak pernah membahas masalah hati.
Seringkali mereka menghabiskan waktu berdua, tidak perlu ada sebuah alasan khusus, bagi Rinai asal bersama Surya dia akan merasa bahagia. Makan bersama, nonton pertunjukan bersama, berbelanja bersama, bermain game bersama, olahraga bersama, mencari foto bersama, plesir bersama, apapun... walau hanya duduk-duduk dan berputar-putar kota tanpa tujuan... asal bersama.
Hujan... masa-masa bersama mereka, juga bersama hujan. Rinai dan Surya pada sebuah malam gerimis, mereka keluar untuk menonton pertunjukan wayang cina. Tepat setelah pertunjukkan usai, dan mereka hendak beranjak melanjutkan kebersamaan dengan menjelajahi pinggiran jalanan, namun tiba-tiba hujan deras menahan mereka. Seperti juga ketika hujan menahan mereka berdua di atap sebuah mall, meski hanya bisu diantara mereka berdua. Hujan juga membuat mereka bersarang di sebuah gedung foodcourt, dan menghabiskan malam dengan sebungkus burger. Malam berhujan kala itu, membuka sedikit mata Rinai, bahwa Surya tidak merancang masa depan dengan keberadaan Rinai di dalamnya. Rinai kembali bersabar, mungkin Surya hanya belum berpikir ke situ. Dan di hujan selanjutnya, Rinai bertemu dengan Surya ketika Rinai memutuskan kembali ke kampung halamanya esok pagi. Malam itu hujan, Rinai membawakan sebungkus susu segar dan roti bakar untuk Surya yang telah menunggu di Perpustakaan Kota. Mereka tidak membahas mengenai rasa takut berpisah satu sama lain, namun mereka hanya tidak menginginkan malam itu berakhir. Tidak banyak kata yang terucap diantara keduanya, hingga mereka berpindah ke gedung sebelah yang sedang menyelenggarakan sebuah acara musik Jazz. Jalanan masih basah, dan bau hujan, Rinai mengikuti bayangan Surya yang berjalan di depannya. Malam itu, terakhir kali Rinai melihat Surya. Rinai yang meninggalkan Surya dalam keadaan penuh keraguan, sedang Surya tidak pernah memberi kepastian. Rinai ingin membiarkan Surya menentukan hatinya, sedang jarak itu justru semakin lebar, dan rasa itu hampir kadaluwarsa.
Bersama Hujan...
Bersama hujan, Rinai memiliki setiap kenangan yang dia simpan untuk dirinya. Bersama hujan Rinai melewati masa menyenangkan dengan orang-orang yang pernah memberi arti di hatinya. Sepertimu Hujan... sepertimu yang selalu merindukan bumi, kelak rasa rindu Rinai akan terjawab.

Jujur Itu Gak Bikin Kita Bahagia



Terinspirasi dari postingan status teman dekat di sebuah sosial media, dia bilang bahwa ‘dunia memang sebuah panggung sandiwara, berpura-pura adalah sebuah cara mendalami dan melakoni peran dengan baik, toh jujur juga tidak membuat kita bahagia.’
malam sebelumnya, ada seorang wanita yang mencoba membuka lembaran masa lalunya. Dan dia menjadi goyah, wanita itu tidak mampu menahan rasa rindunya pada sosok di masa lalu. Sosok yang saat ini mungkin saja telah mampu hidup dengan baik tanpa dirinya. Tapi wanita itu terlalu rindu untuk tidak menyapa dan mengungkapkan kerinduan itu, dia terlalu lemah. sempat dalam benaknya terpikir akankah sosok itu mengatakan hal yang sama? mungkin dia akan tergetar dengan ketulusan dan kejujuran wanita itu. Sangat sulit bagi wanita itu menuliskan pesan singkat sarat makna kepada sosok yang hampir-hampir menjadi asing, namun dia tetap saja mencoba berani menjadi jujur.
dia mengetik “...tiba-tiba aku kangen...”
memejamkan mata, dan dengan penuh tekad memencet  tombol send...
keberanian yang coba dia kumpulkan untuk mengirim rasa rindunya, ternyata tidak sebesar rasa takut untuk menerima respon dari sosok tersebut. hingga dia lebih memilih mematikan alat komunikasi itu. dan setelah rasa rindu itu dirasa lebih netral di pagi harinya, dia memberanikan diri membaca balasan dari sosok itu.
terlalu singkat jawaban yang dia terima terhadap rasa rindu yang seolah menggebu...
“hehe...gitu yaa...”
hanya itu...
itulah balasan dari kejujuran yang saat itu coba diutarakan oleh si wanita. ya... wanita itu bisa sangat memahami, bagaimana kejujuran itu tidak membuatmu bahagia. Mungkin tidak selamanya, tapi kali ini seperti itulah adanya.

Sesuai Porsi



Tertahan selama beberapa waktu... beberapa waktu yang memang hanya ingin aku habiskan bersama keluargaku, tanpa diganggu dengan hiburan drama korea favorit maupun menulis. Sengaja aku menyimpan draft tulisan yang terinspirasi dari perjalanan kecilku memenuhi rindu kepada rasa dingin di Ranu Kumbolo beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri.
Kali ini adalah mengenai pengetahuan dan ketidak tahuan yang sesuai porsi.
Pernah di sebuah perjalanan mendaki gunung, beberapa kali aku melakukan perjalanan naik gunung pada waktu malam hari, biasanya kondisi ini terjadi untuk mendapatkan momen sunrise. Perjalanan malam, bermodal pencahayaan dari headlamp yang begitu terbatas, aku hanya mampu melihat jalan setapak yang ada di depanku. Begitu saja, aku melangkah mengikuti cahaya kecil tersebut hingga sampai pada tempat tujuanku. Dan ketika siang menjelang, ketika cahaya yang lebih besar memperlihatkan semua yang telah aku lalui, terkadang itu membuatku tercengang. Beberapa pertanyaan yang muncul di benakku, ‘apakah semalam aku melewati tanjakan seterjal ini?’ ‘ya ampun, semalam aku melewati punggungan setipis ini, dengan kanan kiri jurang seperti ini?’.
Dan siang itu, di perjalanan pulang menuju Ranu Pani, dari Ranu Kumbolo, sedikit lagi aku mencoba memahami cara Tuhan menyayangi kita, cara Tuhan membantu kita. Ketidak tahuan, yang sering kali aku maki, ternyata malah menjadi cara Tuhan membuat hidupku lebih mudah. Seperti juga yang aku alami ketika gelap malam menutup pengetahuanku mengenai jalan terjal berjurang yang harus aku lewati untuk mencapai puncak, sehingga aku bisa mencapai puncak itu tanpa memikirkan rasa takut, cemas, dan keraguan. Tuhan seringkali menutup pengetahuanku tentang sesuatu hal, mungkin saja karena Tuhan ingin melindungiku dari segala rasa takut, cemas dan ragu untuk melanjutkan kehidupan sebelum aku sampai pada takdirku. Dan pada suatu pemahaman yang lebih baik, ketika aku sudah pada masa yang tepat, dengan cara yang unik Tuhan akan memberikan jawaban atas ketidaktahuanku.
Mungkin memang tidak seharusnya kita memaksakan untuk mengetahui sesuatu hal, karena mungkin saja Tuhan sedang melindungi kita dari pengetahuan yang akan menyulitkan kita untuk menjalani kehidupan ini. Porsi takaran pengetahuan dan konsekuensi atas pengetahuan itu, Tuhan jauh lebih bisa memahaminya. Pada masa yang tepat, rasa ingin tahu itu akan terjawab ketika kita telah sampai pada pemahaman yang baik. Pemahaman yang justru akan memudahkan jalan kehidupan kita. Dan kita telah siap dan berani menghadapi setiap pengetahuan dan kebenaran yang ada.