Senin, 25 Juni 2012

jika

Jika aku tak lagi jauh darimu…

Aku akan menemanimu hingga kamu tertidur pulas…
Aku akan di sampingmu hingga kamu kembali tersenyum…
Aku akan menjadi saksi utama kamu untuk kembali bersinar…
Aku akan meminjamkan bahuku ketika kamu lelah akan kerasnya hidup…
Aku akan tetap di sana hingga habis cerita…
Aku akan memasang telinga demi setiap ucap dari bibirmu…
Aku akan menggenggam tanganmu ketika kamu mulai tak yakin untuk terus melangkah…
Aku ada, hingga kamu percaya bahwa kamu tak lagi sendiri…

Jika…mimpi ini menjadi nyata…
Wahai Tuhan, jangan bilang itu terlalu tinggi…

Kamis, 31 Mei 2012

sekelumit warna abu-abu di ujung bulan


Hari-hari belakangan yang serasa tidak berwarna…
Mendung dan pucat, rasa-rasa seperti semua sedang berjalan menjauh dan semakin jauh, dan hanya tinggal aku sendiri…
Waktu masih saja berlalu seperti biasa, tanpa pernah sekalipun bertanya padaku, ‘apakah aku siap melanjutkan hari-hari ke depan’.
Kecewa, tentang sebuah rasa bernama kecewa, yang belakangan ini semakin terasa pula. Bukan kawan, rasa kecewa ini sebenarnya bukan lagi masalah karena ketidaksempurnanya kamu. Kamu amatlah berkilau di dalam benakku, kamu amatlah berharga dalam sudut pandangku, kamu seperti apapun itu selalu menaklukanku. Namun kawan, rasa kecewa itu lebih karena sebuah harapan dariku yang terlalu berlebih. Kecewa adalah ketika apa yang tersketsa dalam benak ini kemudian tidak sesuai dengan apa yang tervisualisasi dan terasa dalam kenyataannya. Itu adalah kesalahanku, ketika aku terlalu berharap lebih terhadapmu, terlalu banyak menuntut terhadap kehidupan orang lain sesuai dengan apa yang telah aku sketsakan, namun ternyata hidup tidak selalu ideal kawan, mungkin tak seharusnya aku berimaji terlalu lebih lagi, cukup yang sangat sederhana dan rasional, untuk tidak lagi merasakan kecewa, menyiapkan batin untuk segudang alasan menghentikan segudang imaji itu.

Sabtu, 05 Mei 2012

Saya & Radio Rusak

Frekuensi yang semakin menghilang…
Diikuti dengan suara yang semakin tidak terdengar

Kamu, masih tentang kamu yang tak pernah benar-benar mendengarkanku, dengar tentang aku, yang selalu mendengarkanmu…

Kamu, yang meski hanya satu dua hal begitu sederhana, sesederhana memanggil nama, memberi apresiasi di hari-hari bersejarah, berbagi ucapan remeh temeh, memberi kata-kata nyaman yang  bahkan jika itu hanya sebuah tipuan… 

Bukankah hidup itu sederhana?

Namun fokus itu telah menjadi tatapan blur dari mata yang pernah menunjukkan kesederhanaan rasa.

Terasa lucu ketika tuntutan demi tuntutan remeh temeh ini terbersit dalam benak, sedangkan itu sama sekali tidak pernah menjadi suatu nilai berarti terhadap tersangkanya. Sungguh sayang ketika kemudian waktu ini tercurah pada pemikiran yang tidak seharusnya.

Sungguh, ini hanyalah permintaan standar seorang wanita…

Dan tentang wanita itu, saya lebih tertarik dengan bagaimana seorang anak manusia menilai tentang bagaimana seorang wanita. Wanita pada umumnya yang identik dengan kelemahlembutannya, kecantikannya, busana-busana indah melekat di badannya, pernak-pernik menawan yang menambah keleganannya, wangi-wangi yang menebar pesonanya, bedak dan riasan yang tersaput di wajah cantiknya.

Begitulah perspektif standar pria terhadap wanita, yang ternyata sangat disayangkan itu jauh dari perspektif orang sekitar terhadap pola kehidupan saya. Sungguh disayangkan, namun ini membuat saya tahu diri, bagaimana permintaan standar ku sebagai wanita terpenuhi ketika perspektif standar pria terhadap wanita juga tidak memenuhi kualifikasi padaku…

Jangan menelan tulisan ini mentah-mentah, ini memang hanya analisis tolol lagi dari saya. Bukan berarti kehidupan saya lantas akan berubah menjadi wanita yang pada umumnya. I will just stay on my way, just the way I’m. Kalau mau dibahasa gaulkan, ‘ini gue, dan beginilah gue!’.

Ekspektasi yang terlalu berlebihan, hingga ber’andai-andai yang tidak semestinya. Tentang permasalahan rasa seperti ini, permasalahan rasa yang sudah pasti banyak dirasa oleh sebagian besar anak manusia, tentang hilangnya logika dan kenormalan yang teramat normal, kini harus segera dikembalikan.

Mungkin tidak sekarang, mungkin aku, kamu, dia , mereka tidak tahu, namun Tuhan selalu tahu kapan jawaban atas segala tanya ini diberikan pada saat yang memang benar-benar tepat.

Kamu, si radio rusak yang pernah tiba-tiba muncul pada frekuensiku, 
dan kemudian mengganggu pada setiap malam waktu istirahatku yang sempit, 
dan diawali dari monolog hingga menjadi dialog, 
dan juga banyak compang-camping dimana aku hanya mendengarkan cuplikan lagu-lagu favoritmu meluncur dari frekuensi itu, 
dan dari yang tidak ada menjadi ada, 
dan dari keanehan yang menjadi kebiasaan, 
hingga akhirnya kamulah satu-satunya radio rusak yang selalu aku tunggu di setiap ujung kelelahan di malam hari untuk membuka setiap detail cerita yang siap didialogkan.

Begitulah tentang Radio Rusak itu, sebelum pada akhirnya frekuensinya menghilang. Meski telah aku koyak-koyak radio itu, aku pukul-pukul, bahkan aku elus-elus membujuknya kembali berbunyi pada frekuensi itu, tapi nihil.

Begitulah tentang Radio Rusak itu, yang kini sungguh sangat membuatku kangen.

Euforia mengenai Radio Rusak yang tidak muncul lagi pada frekuensinya yang akan tetap aku tunggu kemunculannya, meski tidak setiap saat, kini harus kembali pada kenormalan hidup yang akan dimulai dengan keanehan yang suatu saat akan menjadi kebiasaan juga.

Selasa, 10 April 2012

D' BrOwniEs


Dan kemudian, sebuah monolog ini hanya akan berakhir pada bagian kecil dari ribuan bahkan jutaan tulisan yang terlahir dari kata hati manusia yang sedang sempat kehilangan arah dan sedang berusaha menguatkan langkah dengan alasan yang lebih kuat. Sungguh, tak akan habis kata yang bercucuran ketika kita berbicara tentang rasa. Meski tersengal dan terbata-bata, namun semua tetap akan terangkai dengan indah pada akhirnya. Semoga kita bisa menggunakan sudut pandang yang sesuai, dan semua tetap bisa dinikmati, seperti lembutnya brownies yang manis meski di dalamnya tersimpan rasa pahit.
It decide
Tentu saja aku selalu ingin menjadi orang pertama yang berdiri paling depan ketika masalah dan segala keresahan hadir di benakmu, namun tidak ada sebuah apresiasi darimu… Mungkin aku bukanlah tempat nyaman lagi bagimu, atau mungkin justru akulah ancaman itu… Seandainya saja isyarat itu cukup untuk menjelaskan semuanya, seandainya saja kamu tidak lambat…
Diam, dan teruslah berdiam…
Dan kebisuan ini tetap tidak akan membuat kita mengerti, benang kusut ini hanya akan tetap seperti ini, tidak akan pernah bertemu antar ujungnya
Yah, telah diputuskan… tentang pertaruhan terakhirku, tidak berakhir dengan empat mata, dan hanya berakhir pada sekotak alat canggih bernama handphone, yang semakin lama mebuatku semakin muak. Alat ini memang sangat membantu dalam banyak hal, terutama komunikasi jarak jauh. Tapi bagaimana bisa semua diakhiri dengan tanpa menatap kedalaman mata mu, menilai kesungguhan kata dengan pikirmu hanya dengan kotak memuakkan itu? Namun begitulah yang kamu putuskan.

Lihat mataku, dan kau akan tahu seberapa dalam aku menderita.
Dan aku ingin melihat bagaimana mata itu memandang mata yang sama-sama kelelahan ini… Perjumpaan itu, apa masih perlu sebuah alasan kuat untukmu?
Mungkin sudah terlampau sulit untuk bisa saling menguatkan, dan aku telah salah menganggap aku bisa banyak berbagi dengan kamu. Meski pada akhirnya kamu belum memilih.
Semua yang mendadak biasa saja, meski tidak mudah, tetaplah bertahan dengan menjadi biasa. Berat menuliskan kata-kata selanjutnya, bahwa mungkin, jalan kita akan terpisah pada titik ini…
Kamu yang pernah menjadi alasan terkuat untukku menjadi sempurna,

Kamu yang pernah ada diujung kelelahanku,

Kamu yang pernah selalu menawarkan kenyamanan itu,

Kamu yang pernah menjadi satu-satunya alasan untukku tersenyum disaat terpahit itu,

Kamu yang mampu menguatkan ketika aku kehilangan,

Kamu yang pernah mengajari aku arti berbagi,

Kamu yang pernah memberi makna tersendiri dalam setiap waktuku,

Kamu yang telah menjadi potongan puzzle istimewaku…

Selalu ingatlah saat yang singkat namun manis ini…
Tentang kamu, tentang aku, dan sepotong rasa yang mengingatkanku pada brownies yang lembut, manis dan sedikit pahit…

Minggu, 08 April 2012

Kopi hitam rasa pahit


Masih tentang sebuah rasa yang mulai membatu,

Telak seorang manusia yang telah membuatku tertegun oleh setiap pertaruhan demi pertaruhan yang sampai saat ini tak ada jawaban yang pasti terhadapnya.

Bisu yang sedalam-dalamnya…

Kembali, aku selalu membenci ketidaktahuan tentang dia. Membiarkan rasa keingintahuan ini membubung terlalu tinggi tanpa ada sedikitpun garis bantu untuk menganalisis, bahkan secara ilmu ketololanpun dia sama sekali tak terjangkau.

Bisu, dan tetap membisu sekali lagi…

Terabaikan oleh sebuah tanya yang begitu besar, mengenai rasa-rasa manis yang kemudian menjadi getir…

Mungkin aku terlalu sering menikmati rasa manis, dan mungkin kini saatnya mengecap bagaimana kegetiran rasa tawar dan pahit dengan sensasi kenikmatan yang sedikit berbeda.

Susah bagiku mendeskripsikan rasa dengan kata, jari ini terhenti sejenak mencari perwakilan kata demi kata untuk bisa dipahami pula olehmu.

Aku tidak memiliki banyak kekuatan untuk tetap bertahan seperti ini, masih banyak pula pertentangan yang menuntut jawaban. Mengenai sebuah keinginan yang memang tidak harus selalu dituruti, mengenai rasa-rasa yang entah tepat atau tidak, dan mengenai kehormatan dan harga diri yang entah masih akan terjaga atau dibuang begitu saja.

Semua rasa yang silih berganti, rindu, suka, benci, khawatir, dan segenap rasa yang lain, rasa yang pernah ada, suatu saat hanya akan menjadi gelas kosong yang terasa lucu jika kemudian dikenang kembali.

Hanya saja…

Aku belum terbiasa tanpa keberadaanmu, memalingkan semua rasa itu dalam waktu yang terlampau singkat, mudahkah bagimu?

Dan kemudian, masihkah ada sedikit waktu untuk sebuah pertaruhan terakhir itu?

Kita duduk empat mata dengan gelas-gelas penuh kepulan asap kopi hitam rasa pahit, berbincang penuh kehangatan meski terasa pahit, kembali berbicara, menguntai kata demi kata untuk membuka benang kusut hingga bertemu antara ujung dengan ujungnya.

Tentang pertaruhan terakhir, di atas meja perjudian itu, hanya ada sebuah kenekatan, dan membuang sedikit harga termahal yang seharusnya terjaga sebagai pertahanan terakhir.

Demi sesuatu yang layak diperjuangkan, dan diungkapkan…

Kamis, 05 April 2012

Spechless


Itu hanyalah tentang sebuah rasa yang sederhana,

Rasa-rasa yang memunculkan sebuah kenyamanan…

Saya sangat paham pada suatu ketika nanti, saya juga akan kehilangan rasa nyaman itu, suatu pemahaman yang muncul jauh ketika saya memulai berbicara tentang hidup ini dengan anda. Detik, menit, jam, hari, dan bulan, memang tak banyak cerita yang bisa dibagi dalam waktu yang terlewati itu.

Tak pernah ada buku dan teori yang membahas kepastian tentang sebuah keyakinan yang bisa menuntunku untuk menggunakan sudut pandang yang tepat. Hingga waktu yang singkat itu memaksa untuk memberi keyakinan yang mungkin tergesa, dan sempat membuat seolah itu tepat.

Seperti di meja perjudian, dan aku mulai pertaruhan itu dengan diriku sendiri…

‘memutuskan untuk berani mencintai, dan mencintai dengan berani’

Sesuatu yang abstrak menjadi pendorong yang kuat untukku melakukan hal di luar kesepahaman yang telah terbangun dalam pemikiranku sampai detik itu, sesuatu yang tak mampu dipercaya dan dicerna oleh logika. Sungguh mahal harga yang harus dibayar pada pertaruhan ini, harga untuk membayar segala pertentangan akan nilai-nilai yang telah tertanam kuat namun begitu rapuh oleh hal yang abstrak dan penuh ketidakpastian.

Belum mencapai klimaks, dan pertanyaan itu justru semakin memunculkan rasa penasaran yang lebih besar.

Sedikit hal yang baru saja saya ketahui, ternyata lebih banyak membuat saya tidak mengerti dan semakin ingin tahu. Saya hanya merasa itu menarik, bukan bermaksud menguji atau memaksa untuk menggali sebuah cerita.

Aku benci karena ketidaktahuanku…

Tidak sehat memang ketika dalam ketidaktahuan itu kemudian hanya memunculkan suatu tebakan yang selanjutnya dianalisis secara tolol dan sederhana oleh kapasitas seperti ini. Namun semakin lama semakin menghilang akses untuk memahami lebih dalam, mungkin saya terlalu jauh melangkah pada keadaan yang tak semestinya.

Merasa ganjil pada sebuah keadaan yang tak bertuan, seperti sebuah tanah kosong tanpa pemilik yang terabaikan, hampa, terkatung-katung, namun memiliki kebebasan yang utuh.

Kembali lagi mengenai kenyamanan,

Di dalam kamus yang menyimpan kata SELALU, namun TIDAK SETIAP SAAT, mungkin seperti itulah tentang prinsip kehidupan yang ada. Namun bagaimana lagi jika suara itu mulai tiada, tempat ternyaman itu mulai menghilang, dan kepercayaan mulai berpindah.

Bagaimana mungkin tidak ada lagi rasa ingin tahu…tidak lagi ada keinginan berbagi…tidak ada lagi kepedulian itu…

Mungkinkah harus berhenti mencari tahu…berhenti memberi…dan berhenti meminta…

It’s annoying…

Begitu sempitnya waktu, untuk rasa yang begitu besar…

Bukan tentang sebuah penyesalan dan hal yang sia-sia…

Pelajaran untuk berbagi dan terus berbagi dalam hidup telah terpetik dari sini, dan saya masih ingin berbagi banyak hal lagi…

Mengenai keyakinan yang saat itu seolah tepat, mungkin tak sepenuhnya bisa diyakini.

Karena mencintai itu…tidak putus asa…