Senin, 25 Juni 2012
jika
Kamis, 31 Mei 2012
sekelumit warna abu-abu di ujung bulan
Sabtu, 05 Mei 2012
Saya & Radio Rusak
Selasa, 10 April 2012
D' BrOwniEs

Dan kemudian, sebuah monolog ini hanya akan berakhir pada bagian kecil dari ribuan bahkan jutaan tulisan yang terlahir dari kata hati manusia yang sedang sempat kehilangan arah dan sedang berusaha menguatkan langkah dengan alasan yang lebih kuat. Sungguh, tak akan habis kata yang bercucuran ketika kita berbicara tentang rasa. Meski tersengal dan terbata-bata, namun semua tetap akan terangkai dengan indah pada akhirnya. Semoga kita bisa menggunakan sudut pandang yang sesuai, dan semua tetap bisa dinikmati, seperti lembutnya brownies yang manis meski di dalamnya tersimpan rasa pahit.
It decide… Tentu saja aku selalu ingin menjadi orang pertama yang berdiri paling depan ketika masalah dan segala keresahan hadir di benakmu, namun tidak ada sebuah apresiasi darimu… Mungkin aku bukanlah tempat nyaman lagi bagimu, atau mungkin justru akulah ancaman itu… Seandainya saja isyarat itu cukup untuk menjelaskan semuanya, seandainya saja kamu tidak lambat…
Diam, dan teruslah berdiam… Dan kebisuan ini tetap tidak akan membuat kita mengerti, benang kusut ini hanya akan tetap seperti ini, tidak akan pernah bertemu antar ujungnya
Yah, telah diputuskan… tentang pertaruhan terakhirku, tidak berakhir dengan empat mata, dan hanya berakhir pada sekotak alat canggih bernama handphone, yang semakin lama mebuatku semakin muak. Alat ini memang sangat membantu dalam banyak hal, terutama komunikasi jarak jauh. Tapi bagaimana bisa semua diakhiri dengan tanpa menatap kedalaman mata mu, menilai kesungguhan kata dengan pikirmu hanya dengan kotak memuakkan itu? Namun begitulah yang kamu putuskan.
Lihat mataku, dan kau akan tahu seberapa dalam aku menderita. Dan aku ingin melihat bagaimana mata itu memandang mata yang sama-sama kelelahan ini… Perjumpaan itu, apa masih perlu sebuah alasan kuat untukmu?
Mungkin sudah terlampau sulit untuk bisa saling menguatkan, dan aku telah salah menganggap aku bisa banyak berbagi dengan kamu. Meski pada akhirnya kamu belum memilih. Semua yang mendadak biasa saja, meski tidak mudah, tetaplah bertahan dengan menjadi biasa. Berat menuliskan kata-kata selanjutnya, bahwa mungkin, jalan kita akan terpisah pada titik ini…
Kamu yang pernah menjadi alasan terkuat untukku menjadi sempurna,
Kamu yang pernah ada diujung kelelahanku,
Kamu yang pernah selalu menawarkan kenyamanan itu,
Kamu yang pernah menjadi satu-satunya alasan untukku tersenyum disaat terpahit itu,
Kamu yang mampu menguatkan ketika aku kehilangan,
Kamu yang pernah mengajari aku arti berbagi,
Kamu yang pernah memberi makna tersendiri dalam setiap waktuku,
Kamu yang telah menjadi potongan puzzle istimewaku…
Selalu ingatlah saat yang singkat namun manis ini… Tentang kamu, tentang aku, dan sepotong rasa yang mengingatkanku pada brownies yang lembut, manis dan sedikit pahit…
Minggu, 08 April 2012
Kopi hitam rasa pahit

Masih tentang sebuah rasa yang mulai membatu,
Telak seorang manusia yang telah membuatku tertegun oleh setiap pertaruhan demi pertaruhan yang sampai saat ini tak ada jawaban yang pasti terhadapnya.
Bisu yang sedalam-dalamnya…
Kembali, aku selalu membenci ketidaktahuan tentang dia. Membiarkan rasa keingintahuan ini membubung terlalu tinggi tanpa ada sedikitpun garis bantu untuk menganalisis, bahkan secara ilmu ketololanpun dia sama sekali tak terjangkau.
Bisu, dan tetap membisu sekali lagi…
Terabaikan oleh sebuah tanya yang begitu besar, mengenai rasa-rasa manis yang kemudian menjadi getir…
Mungkin aku terlalu sering menikmati rasa manis, dan mungkin kini saatnya mengecap bagaimana kegetiran rasa tawar dan pahit dengan sensasi kenikmatan yang sedikit berbeda.
Susah bagiku mendeskripsikan rasa dengan kata, jari ini terhenti sejenak mencari perwakilan kata demi kata untuk bisa dipahami pula olehmu.
Aku tidak memiliki banyak kekuatan untuk tetap bertahan seperti ini, masih banyak pula pertentangan yang menuntut jawaban. Mengenai sebuah keinginan yang memang tidak harus selalu dituruti, mengenai rasa-rasa yang entah tepat atau tidak, dan mengenai kehormatan dan harga diri yang entah masih akan terjaga atau dibuang begitu saja.
Semua rasa yang silih berganti, rindu, suka, benci, khawatir, dan segenap rasa yang lain, rasa yang pernah ada, suatu saat hanya akan menjadi gelas kosong yang terasa lucu jika kemudian dikenang kembali.
Hanya saja…
Aku belum terbiasa tanpa keberadaanmu, memalingkan semua rasa itu dalam waktu yang terlampau singkat, mudahkah bagimu?
Dan kemudian, masihkah ada sedikit waktu untuk sebuah pertaruhan terakhir itu?
Kita duduk empat mata dengan gelas-gelas penuh kepulan asap kopi hitam rasa pahit, berbincang penuh kehangatan meski terasa pahit, kembali berbicara, menguntai kata demi kata untuk membuka benang kusut hingga bertemu antara ujung dengan ujungnya.
Tentang pertaruhan terakhir, di atas meja perjudian itu, hanya ada sebuah kenekatan, dan membuang sedikit harga termahal yang seharusnya terjaga sebagai pertahanan terakhir.
Demi sesuatu yang layak diperjuangkan, dan diungkapkan…
Kamis, 05 April 2012
Spechless

Itu hanyalah tentang sebuah rasa yang sederhana,
Rasa-rasa yang memunculkan sebuah kenyamanan…
Saya sangat paham pada suatu ketika nanti, saya juga akan kehilangan rasa nyaman itu, suatu pemahaman yang muncul jauh ketika saya memulai berbicara tentang hidup ini dengan anda. Detik, menit, jam, hari, dan bulan, memang tak banyak cerita yang bisa dibagi dalam waktu yang terlewati itu.
Tak pernah ada buku dan teori yang membahas kepastian tentang sebuah keyakinan yang bisa menuntunku untuk menggunakan sudut pandang yang tepat. Hingga waktu yang singkat itu memaksa untuk memberi keyakinan yang mungkin tergesa, dan sempat membuat seolah itu tepat.
Seperti di meja perjudian, dan aku mulai pertaruhan itu dengan diriku sendiri…
‘memutuskan untuk berani mencintai, dan mencintai dengan berani’
Sesuatu yang abstrak menjadi pendorong yang kuat untukku melakukan hal di luar kesepahaman yang telah terbangun dalam pemikiranku sampai detik itu, sesuatu yang tak mampu dipercaya dan dicerna oleh logika. Sungguh mahal harga yang harus dibayar pada pertaruhan ini, harga untuk membayar segala pertentangan akan nilai-nilai yang telah tertanam kuat namun begitu rapuh oleh hal yang abstrak dan penuh ketidakpastian.
Belum mencapai klimaks, dan pertanyaan itu justru semakin memunculkan rasa penasaran yang lebih besar.
Sedikit hal yang baru saja saya ketahui, ternyata lebih banyak membuat saya tidak mengerti dan semakin ingin tahu. Saya hanya merasa itu menarik, bukan bermaksud menguji atau memaksa untuk menggali sebuah cerita.
Aku benci karena ketidaktahuanku…
Tidak sehat memang ketika dalam ketidaktahuan itu kemudian hanya memunculkan suatu tebakan yang selanjutnya dianalisis secara tolol dan sederhana oleh kapasitas seperti ini. Namun semakin lama semakin menghilang akses untuk memahami lebih dalam, mungkin saya terlalu jauh melangkah pada keadaan yang tak semestinya.
Merasa ganjil pada sebuah keadaan yang tak bertuan, seperti sebuah tanah kosong tanpa pemilik yang terabaikan, hampa, terkatung-katung, namun memiliki kebebasan yang utuh.
Kembali lagi mengenai kenyamanan,
Di dalam kamus yang menyimpan kata SELALU, namun TIDAK SETIAP SAAT, mungkin seperti itulah tentang prinsip kehidupan yang ada. Namun bagaimana lagi jika suara itu mulai tiada, tempat ternyaman itu mulai menghilang, dan kepercayaan mulai berpindah.
Bagaimana mungkin tidak ada lagi rasa ingin tahu…tidak lagi ada keinginan berbagi…tidak ada lagi kepedulian itu…
Mungkinkah harus berhenti mencari tahu…berhenti memberi…dan berhenti meminta…
It’s annoying…
Begitu sempitnya waktu, untuk rasa yang begitu besar…
Bukan tentang sebuah penyesalan dan hal yang sia-sia…
Pelajaran untuk berbagi dan terus berbagi dalam hidup telah terpetik dari sini, dan saya masih ingin berbagi banyak hal lagi…
Mengenai keyakinan yang saat itu seolah tepat, mungkin tak sepenuhnya bisa diyakini.
Karena mencintai itu…tidak putus asa…
