Rabu, 22 April 2015

Happy Weekend edisi Tanah Kita Tanah Surga

Belah duren di siang hari...!!
 Selamat berakhir pekan...
Masih dalam rangka menikmati ‘perjalanan’, kali ini sebuah perjalanan kecil bersama teman kerja. Seringkali kita memerlukan sebuah alasan untuk melakukan sesuatu, termasuk sebuah perjalanan. Entah itu sekedar untuk membekukan sebuah momen ke dalam frame foto, atau mencari suasanan baru. Tapi perjalanan kecil kami bertiga kali ini memiliki tujuan yang hanya bisa terjadi secara musiman...ya... kami ingin menikmati secara ekslusif musim durian di Malinau.
Musim durian kali ini berlangsung lebih cepat beberapa bulan, dibandingkan dengan tahun kemarin. Seingatku, tahun lalu aku baru bisa menikmati mantapnya durian Malinau sekitar bulan Juli hingga bulan September. Tapi Tahun ini, musim spesial ini datang lebih cepat, yaitu di bulan April. Awalnya aku juga kurang yakin apakah memang sudah mulai musim, dan setelah melihat dengan mata kepala sendiri saya mengabsahkan kedatangan musim ini. Welkam to Malinau, wahai para durian nikmat.. J
Keseruan selanjutnya adalah sesi berburu durian bersama kawan. Menikmati durian dengan membeli di penjual terlalu mudah kami rasa, sehingga kegiatan blusukanpun kami jabanin. Bermodal informasi dasar dari seorang teman, kami menelusuri jalanan rock n roll berdebu menuju kampung kecil di ujung jalan, kampung beringin. Menuju ke kampung tersebut, kanan kiri jalan banyak kami temui pohon durian. Sesekali kami melongok mencari pengumpul durian yang ada di bawah tegakan sawit.
pondok penjaga di bawah kebun sawit
Kami sedikit kesorean saat itu, sehingga sudah sedikit stok durian yang ada di sekitar kebun. Yaa..kami memang sengaja mencari durian yang masih fresh from the tree. Benar-benar masak dari pohon, dan rasanya maknyuss. Setelah sedikit hopeless karena kami belum menemukan sisa pengumpul durian yang ada di kebun, kami melihat ada pondok yang menyajikan 3 buah durian. Beruntung bagi kami, durian itu belum memiliki tuanya. Sikat sudah 3 durian yang terlihat menggiurkan itu. Dan...memang nikmat.
si Kakak Penjaga Kebun
Sambil menikmati durian fresh from the tree, kami pun berbincang dengan si penjual. Anak kecil berumur sekitar 10 tahunan, dia mengaku sebagai seorang murid SD. Sepulang sekolah dia langsung pergi ke kebun durian yang sedang kami singgahi itu. Kerja dia sederhana saja, mencari durian yang telah berjatuhan, dan menjajakannya di pondok yang terletak di bawah tegakan kebunsawit. Jika durian yang dipajangnya sudah ludes, maka dia hanya perlu berdiam dan menunggu ronde durian jatuh berikutnya. Begitulah siklus berdagang anak kecil itu (saya lupa namanya). Dia tidak menjaga kebun sendiri, bersama seorang adik yang lebih kecil darinya, seorang adik yang kira-kira berumur 5-6 tahunan. Dia (si kakak) cukup pandai dalam tawar menawar harga durian. Cukup alot kami mendapatkan harga deal durian dengannya, 30 ribu rupiah untuk 3 buah durian mantap. Pada akhirnya kami sedikit memberi tips untuk si adek kecil, karena kepandaiannya berdagang dan kepuasan kami makan durian yang enak itu.
si Adik Penjaga Durian
Dalam perbincangan, kami sedikit bertanya kenapa bukan orang tua mereka yang menjaga kebun durian tersebut. Mereka menjelaskan bahwa orang tua mereka menjaga kebun pada pagi hari, karena waktu-waktu tersebut paling banyak durian berjatuhan, dan biassanya sudah ada pengepul  durian di pagi-pagi buta itu. Siang harinya, orang tua mereka meminta dia (si kakak) menjaga kebun, karena si ortu ingin sedikit refresing main PS (awalnya saya berpikir ini memang benar permainan PS bin playstation). Ahh... gahol juga ni para orang tua maen PS, sedang anaknya hanya jaga kebun duren. Obrol punya obrol, akhirnya di ujung perbincangan kami, ternyata PS yang dimaksud si dia (si kakak) adalah semacam pasang taruhan di acara sabung ayam yang sempat kami lewati tadi. Astaga...
Kenyang sudah dengan durian, puas sudah perjalanan kali ini. Perjalanan pulang kami yang cukup pelan, dan kepala yang cukup berat (entah kenapa, tiba-tiba saya merasa kemampuan mekan durian saya mulai merangkak turun). Sambil menikmati udara yang bergerak kami bertiga berdendang bersama...
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
-Kolam susu by Koes Plus-
Selamat berakhir pekan, dan ingat terus lirik lagu di atas, “Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga”. Selamat menikmati Tanah Kita Tanah Surga. J

Rabu, 15 April 2015

The core of the Journey, is Coming Back Home

Inti dari sebuah perjalanan, adalah Pulang.

Ketertarikan setiap orang memang berbeda, banyak hal yang bisa muncul ketika kita membahas mengenai ketertarikan itu sendiri. Ada jenis ketertarikan yang sederhana, medium, rumit, bahkan ekstrim. Ketertarikan antar sesama manusia, ketertarikan pada kemewahan, ketertarikan pada sebuah aktivitas, ketertarikan pada keklasikan, dan banyak lagi. Sesuatu yang jarang disadari, namun ternyata menjadi kecenderungan dalam diri masing-masing. Ketertarikan itu juga bukan sesuatu yang sengaja dibuat-buat hanya untuk sebuah status sosial, gengsi, pamer, dan ajang unjuk diri. Hal itu muncul seperti sebuah klik, ketika kita merasa menikmati, ketika pada akhirnya kita ingin mengetahui lebih dalam dan mencoba lebih banyak. Banyak pula dari kita yang memiliki ketertarikan lebih dari satu hal, hanya kadar dan intensitasnya terkadang berbeda. Ada yang hanya ala kadarnya, namun juga ada yang sangat intens. Dari begitu banyak ketertarikan yang pernah aku alami, ada yang kadarnya lebih tebal daripada ketertarikan lainnya. Dia bertahan cukup lama, dan aku merasa sangat menikmatinya, ketertarikanku pada sebuah perjalanan.
Dalam sebuah perjalanan, terkadang aku menemukan tujuan perjalananku selanjutnya.
Bahkan hidup juga adalah sebuah perjalanan, hingga kelak kita akan mengetahui bahwa tujuan perjalanan ini adalah untuk kembali pulang. Setiap peristiwa, tempat baru, orang baru, dan keadaan yang baru hanyalah sebuah pemberhentian sementara, tempat singgah. Di situ terkadang aku sedikit banyak belajar mengenai esensi kehidupan, meski mungkin banyak yang masih saja terlewat. Mengenai tujuan hidup seseorang, jangan terlalu mengkhawatirkan kelak akan menjadi apa diri kita, akan seperti apakah diri kita. Melalui perjalanan juga pada tempat persinggahan, terkadang kita akan menemukan ide perjalanan selanjutnya dan tempat persinggahan selanjutnya. Jangan khawatir, sesekali Tuhan ingin bermain dengan kita, sesekali juga Tuhan menahan jawaban atas tanya kita, yang kelak pasti akan dijawabnya ketika kemampuan pemahaman kita sudah pada waktunya. Cukup jalani saja perjalanan kali ini dengan sebaik-baiknya.
Mengingat setiap perjalanan yang pernah aku lakukan, selalu saja menyenangkan. Sangat bersyukur pada masa itu pernah menikmati perjalanan-perjalanan yang tak jarang juga kena asam manisnya. Pada intinya, aku tidak menyesal melewati masa-masa itu penuh dengan kegilaan perjalanan masa muda. Tak jarang aku bertemu dengan orang yang lebih berumur dari aku, dan mengatakan bahwa mereka ingin mengunjungi tempat-tempat yang pernah aku jamah, namun apa daya ketika tubuh semakin menua dan bukan saatnya menaikan ego pribadi karena sebuah tanggungjawab baru telah disandang mereka. Ini bukan berarti bahwa kehidupanku lebih baik dan lebih menyenangkan dari mereka, hanya saja ada sebuah kepuasan tersendiri ketika aku merasa tidak ada penyesalan dalam menjalani masa muda itu. Masa dimana ego pribadi anak muda yang jarang berpikir mengenai resiko dan haus akan jawaban akan rasa penasarannya meloncat setinggi-tingginya tanpa mau diberikan batas.
Di dalam sebuah perjalanan, terkadang aku menemukan aku yang begitu kecil di antara semesta...
di dalam sebuah perjalanan, aku melihat keanekaragaman kehidupan semesta...
di dalam sebuah perjalanan, aku melihat kelelahan juga kekuatan...
di dalam sebuah perjalanan, aku menyadari keegoisan juga pengorbanan...
di dalam sebuah perjalanan, aku menemukan lawan dan kawan...
di dalam sebuah perjalanan, aku menghirup asap pekat dan kesegaran...
di dalam sebuah perjalanan, aku memeluk rasa dingin dan menyambut secercah sinar hangat...
di sebuah perjalanan, terkadang ada keraguan dan penyesalan...
di sebuah perjalanan, aku merasakan arti bersama dan kesendirian...
di sebuah perjalanan, terkadang Tuhan mengajarkan tentang bagaimana dunia bekerja...
di sebuah perjalanan, aku selalu mengingat tempat dimana aku berasal...
dan di sebuah perjalanan, selalu ada pintu yang terbuka untukku, orang-orang yang setia menungguku, rasa hangat yang akan memeluk rasa suka duka pun cinta dan luka yang aku dapatkan, mereka yang menjaga jalan kembaliku tetap utuh, jalanku kembali pulang dari sebuah perjalanan.

Minggu, 05 April 2015

Jika Susah, Jangan Dipaksain...

Kali ini begitulah cara unik Tuhan menjawab segala keraguan yang hari itu muncul karena seseorang.
Tentang seseorang yang pernah berarti, namun ternyata hanya aku salah memberi arti. Beberapa hari belakangan, seseorang itu kembali datang. Masih sama seperti sebelumnya, tetap membawa kenyamanan. Kami berbincang dengan sangat biasa, berbagi meskipun hanya kisah tentang keseharian, juga saling menertawakan. Seperti kemarin tidak pernah terjadi apa-apa.
Janji-janji bahwa kelak tidak mungkin sama itu hampir-hampir menguap. Janji-janji itu bukan untuk  menghukummu, aku tidak memiliki hak untuk itu. Janji itu hanya hasil keegoisan pribadi untuk melindungi diri sendiri. Janji untuk melindungi tertusuk pada luka yang sama. Setiap kenyamanan yang seseorang itu tawarkan, hampir membuat lupa. Hingga aku kembali mengingat alasan kenapa dulu sempat berusaha keras untuk berhenti, ketika keadaan seolah mencoba menawarkan untuk kembali memulai lagi.
Terlalu pengecut untuk memberanikan diri merasakan kerumitan yang sama, akhirnya hari itu saya kembali memberi batas pertemanan itu. Jenis hubungan itulah yang memang dia minta, tapi selanjutnya saya justru semakin merasa terjadi keanehan dalam hubungan itu. Teman?? Guyonan macam apalagi ini?? Setelah memiliki kualitas hubungan seperti itu, lalu hanya kembali menjadi teman?? Bahkan setiap senti tentang dirinya itu mampu mengingatkan tentang masa lalu, dan sekarang kami hanya kembali menjadi teman? Terkadang, menjadi seseorang yang benar-benar asing adalah pilihan yang tepat. Yes, we should be back as stranger.. I guess.
Keterasingan yang begitu diam, kami pernah melewati tahap itu dalam jangka waktu hampir setahun. Sangat susah bagi saya untuk memulai keterasingan yang begitu diam itu. Namun ketika harus memulainya lagi kali ini, tentu saja itu jauh lebih mudah. Ya, mungkin memang benar bahwa rasa memiliki masa kadaluwarsa. Sebuah hal yang wajar, ketika kita menjadi kembali dingin.
Beberapa hari kita menjadi diam, yahh...that’s not a big deal for me. Hingga akhirnya tiba-tiba kamu memberi kabar tentang kecelakaanmu. Banyak rasa yang muncul ketika kamu memberikan kabar itu. Rasa heran, kenapa kamu memberitahuku, sedang aku juga tidak mampu memberi bantuan padamu. Rasa sedih karena aku tidak bisa doing more buat kamu. Rasa penasaran, apakah ini hanya sebuah ajang pencarian perhatian, hingga memunculkan rasa aneh hasil trauma masa lalu. What’s the different?? aku tahu ataupun tidak, itu tidak akan memberi beda padamu kan? Ah..tapi bukan segala rasa aneh itu yang diperlukan dia saat ini, cukup dengan rasa empati.
Kami berjarak sangat jauh, hanya gelombang suara dan pesan tertulis saja yang mampu menghubungkan kami. Aku ingin menunjukkan empati itu, walau hanya dengan tulisan maupun suara. Tapi apa yang terjadi selanjutnya, ketakutan itu kembali datang. Ketakutan bahwa aku akan melanggar janji-janji yang pernah ada di masa silam. Hubungan ini harus tegas, aku tidak boleh melewati batas tegas itu. Ya, untuk sementara aku berhasil menunjukkan empati ala pertemanan akward kami.
Menahan diri untuk berempati lebih, itu menjengkelkan. sampai malampun hanya tetap terpikir tapi enggan berbuat sesuatu. Hingga akhirnya, seorang teman menyarankan secara tidak sengaja dan jauh diluar konteks. Dia berkata, “kalau susah, jangan dipaksain ...” Wow...seharian saya hanya terus maju mundur, setengah iya setengah tidak, dan hanya dengan satu kalimat, saya terbangun.
Jangan dipaksain, ya...mungkin selama ini saya telah terlalu memaksa keadaan, memaksa diri sendiri, dan memaksa orang lain. Saya mengingat ingat lagi, bagaimana dulu saya pernah mengambil sikap terhadap setiap sebuah aksi reaksi yang terjadi. Ya...mungkin saya memang terlalu memaksa, hingga ketika keadaan dan orang lain yang tidak sesuai dengan harapan yang sedang saya paksakan itu, justru pada akhirnya sayalah yang merasakan rasa sakit itu. Ada beberapa hal yang memang bisa diperjuangkan dan dipaksakan, namun banyak hal tentang keadaan di luar diri kita, out of our controll that we can’t keep push and force it. Biarkan saja dia mengalir begitu saja, biarkan... Ketika sedang lampu hijau, biarkan tetap berlanjut. Namun ketika sedang perlu berhenti, maka istirahatlah. Ah...ternyata sesederhana itu.
Dan, saya memilih tetap berempati kepada seseorang itu. Tanpa perlu mengkhawatirkan masa depan yang sama-sama tidak pernah kita ketahui. Tetap berempati, bukan sebagai seorang asing...bukan sebagai teman...bukan sebagai seseorang yang spesial. But...it’s just a human being.