Kali ini begitulah cara unik Tuhan menjawab segala keraguan
yang hari itu muncul karena seseorang.
Tentang seseorang yang pernah berarti, namun ternyata hanya
aku salah memberi arti. Beberapa hari belakangan, seseorang itu kembali datang.
Masih sama seperti sebelumnya, tetap membawa kenyamanan. Kami berbincang dengan
sangat biasa, berbagi meskipun hanya kisah tentang keseharian, juga saling
menertawakan. Seperti kemarin tidak pernah terjadi apa-apa.
Janji-janji bahwa kelak tidak mungkin sama itu hampir-hampir
menguap. Janji-janji itu bukan untuk
menghukummu, aku tidak memiliki hak untuk itu. Janji itu hanya hasil
keegoisan pribadi untuk melindungi diri sendiri. Janji untuk melindungi
tertusuk pada luka yang sama. Setiap kenyamanan yang seseorang itu tawarkan,
hampir membuat lupa. Hingga aku kembali mengingat alasan kenapa dulu sempat berusaha
keras untuk berhenti, ketika keadaan seolah mencoba menawarkan untuk kembali
memulai lagi.
Terlalu pengecut untuk memberanikan diri merasakan kerumitan
yang sama, akhirnya hari itu saya kembali memberi batas pertemanan itu. Jenis
hubungan itulah yang memang dia minta, tapi selanjutnya saya justru semakin
merasa terjadi keanehan dalam hubungan itu. Teman?? Guyonan macam apalagi ini??
Setelah memiliki kualitas hubungan seperti itu, lalu hanya kembali menjadi
teman?? Bahkan setiap senti tentang dirinya itu mampu mengingatkan tentang masa
lalu, dan sekarang kami hanya kembali menjadi teman? Terkadang, menjadi seseorang
yang benar-benar asing adalah pilihan yang tepat. Yes, we should be back as
stranger.. I guess.
Keterasingan yang begitu diam, kami pernah melewati tahap
itu dalam jangka waktu hampir setahun. Sangat susah bagi saya untuk memulai
keterasingan yang begitu diam itu. Namun ketika harus memulainya lagi kali ini,
tentu saja itu jauh lebih mudah. Ya, mungkin memang benar bahwa rasa memiliki
masa kadaluwarsa. Sebuah hal yang wajar, ketika kita menjadi kembali dingin.
Beberapa hari kita menjadi diam, yahh...that’s not a big
deal for me. Hingga akhirnya tiba-tiba kamu memberi kabar tentang kecelakaanmu.
Banyak rasa yang muncul ketika kamu memberikan kabar itu. Rasa heran, kenapa
kamu memberitahuku, sedang aku juga tidak mampu memberi bantuan padamu. Rasa
sedih karena aku tidak bisa doing more buat kamu. Rasa penasaran, apakah ini
hanya sebuah ajang pencarian perhatian, hingga memunculkan rasa aneh hasil
trauma masa lalu. What’s the different?? aku tahu ataupun tidak, itu tidak akan
memberi beda padamu kan? Ah..tapi bukan segala rasa aneh itu yang diperlukan
dia saat ini, cukup dengan rasa empati.
Kami berjarak sangat jauh, hanya gelombang suara dan pesan
tertulis saja yang mampu menghubungkan kami. Aku ingin menunjukkan empati itu,
walau hanya dengan tulisan maupun suara. Tapi apa yang terjadi selanjutnya,
ketakutan itu kembali datang. Ketakutan bahwa aku akan melanggar janji-janji
yang pernah ada di masa silam. Hubungan ini harus tegas, aku tidak boleh
melewati batas tegas itu. Ya, untuk sementara aku berhasil menunjukkan empati
ala pertemanan akward kami.
Menahan diri untuk berempati lebih, itu menjengkelkan.
sampai malampun hanya tetap terpikir tapi enggan berbuat sesuatu. Hingga akhirnya,
seorang teman menyarankan secara tidak sengaja dan jauh diluar konteks. Dia
berkata, “kalau susah, jangan dipaksain ...” Wow...seharian saya hanya terus
maju mundur, setengah iya setengah tidak, dan hanya dengan satu kalimat, saya
terbangun.
Jangan dipaksain, ya...mungkin selama ini saya telah terlalu
memaksa keadaan, memaksa diri sendiri, dan memaksa orang lain. Saya mengingat
ingat lagi, bagaimana dulu saya pernah mengambil sikap terhadap setiap sebuah
aksi reaksi yang terjadi. Ya...mungkin saya memang terlalu memaksa, hingga
ketika keadaan dan orang lain yang tidak sesuai dengan harapan yang sedang saya
paksakan itu, justru pada akhirnya sayalah yang merasakan rasa sakit itu. Ada
beberapa hal yang memang bisa diperjuangkan dan dipaksakan, namun banyak hal
tentang keadaan di luar diri kita, out of our controll that we can’t keep push
and force it. Biarkan saja dia mengalir begitu saja, biarkan... Ketika sedang
lampu hijau, biarkan tetap berlanjut. Namun ketika sedang perlu berhenti, maka
istirahatlah. Ah...ternyata sesederhana itu.
Dan, saya memilih tetap berempati kepada seseorang itu.
Tanpa perlu mengkhawatirkan masa depan yang sama-sama tidak pernah kita
ketahui. Tetap berempati, bukan sebagai seorang asing...bukan sebagai
teman...bukan sebagai seseorang yang spesial. But...it’s just a human being.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar