| Belah duren di siang hari...!! |
Selamat berakhir pekan...
Masih dalam rangka menikmati ‘perjalanan’, kali ini sebuah
perjalanan kecil bersama teman kerja. Seringkali kita memerlukan sebuah alasan
untuk melakukan sesuatu, termasuk sebuah perjalanan. Entah itu sekedar untuk
membekukan sebuah momen ke dalam frame foto, atau mencari suasanan baru. Tapi
perjalanan kecil kami bertiga kali ini memiliki tujuan yang hanya bisa terjadi
secara musiman...ya... kami ingin menikmati secara ekslusif musim durian di
Malinau.
Musim durian kali ini berlangsung lebih cepat beberapa
bulan, dibandingkan dengan tahun kemarin. Seingatku, tahun lalu aku baru bisa
menikmati mantapnya durian Malinau sekitar bulan Juli hingga bulan September.
Tapi Tahun ini, musim spesial ini datang lebih cepat, yaitu di bulan April.
Awalnya aku juga kurang yakin apakah memang sudah mulai musim, dan setelah
melihat dengan mata kepala sendiri saya mengabsahkan kedatangan musim ini.
Welkam to Malinau, wahai para durian nikmat.. J
Keseruan selanjutnya adalah sesi berburu durian bersama
kawan. Menikmati durian dengan membeli di penjual terlalu mudah kami rasa,
sehingga kegiatan blusukanpun kami jabanin. Bermodal informasi dasar dari
seorang teman, kami menelusuri jalanan rock n roll berdebu menuju kampung kecil
di ujung jalan, kampung beringin. Menuju ke kampung tersebut, kanan kiri jalan
banyak kami temui pohon durian. Sesekali kami melongok mencari pengumpul durian
yang ada di bawah tegakan sawit.
| pondok penjaga di bawah kebun sawit |
Kami sedikit kesorean saat itu, sehingga sudah sedikit stok
durian yang ada di sekitar kebun. Yaa..kami memang sengaja mencari durian yang
masih fresh from the tree. Benar-benar masak dari pohon, dan rasanya maknyuss. Setelah
sedikit hopeless karena kami belum menemukan sisa pengumpul durian yang ada di
kebun, kami melihat ada pondok yang menyajikan 3 buah durian. Beruntung bagi
kami, durian itu belum memiliki tuanya. Sikat sudah 3 durian yang terlihat
menggiurkan itu. Dan...memang nikmat.
| si Kakak Penjaga Kebun |
Sambil menikmati durian fresh from the tree, kami pun
berbincang dengan si penjual. Anak kecil berumur sekitar 10 tahunan, dia
mengaku sebagai seorang murid SD. Sepulang sekolah dia langsung pergi ke kebun
durian yang sedang kami singgahi itu. Kerja dia sederhana saja, mencari durian
yang telah berjatuhan, dan menjajakannya di pondok yang terletak di bawah tegakan
kebunsawit. Jika durian yang dipajangnya sudah ludes, maka dia hanya perlu
berdiam dan menunggu ronde durian jatuh berikutnya. Begitulah siklus berdagang
anak kecil itu (saya lupa namanya). Dia tidak menjaga kebun sendiri, bersama
seorang adik yang lebih kecil darinya, seorang adik yang kira-kira berumur 5-6
tahunan. Dia (si kakak) cukup pandai dalam tawar menawar harga durian. Cukup
alot kami mendapatkan harga deal durian dengannya, 30 ribu rupiah untuk 3 buah
durian mantap. Pada akhirnya kami sedikit memberi tips untuk si adek kecil,
karena kepandaiannya berdagang dan kepuasan kami makan durian yang enak itu.
| si Adik Penjaga Durian |
Dalam perbincangan, kami sedikit bertanya kenapa bukan orang
tua mereka yang menjaga kebun durian tersebut. Mereka menjelaskan bahwa orang
tua mereka menjaga kebun pada pagi hari, karena waktu-waktu tersebut paling
banyak durian berjatuhan, dan biassanya sudah ada pengepul durian di pagi-pagi buta itu. Siang harinya,
orang tua mereka meminta dia (si kakak) menjaga kebun, karena si ortu ingin
sedikit refresing main PS (awalnya saya berpikir ini memang benar permainan PS
bin playstation). Ahh... gahol juga ni para orang tua maen PS, sedang anaknya
hanya jaga kebun duren. Obrol punya obrol, akhirnya di ujung perbincangan kami,
ternyata PS yang dimaksud si dia (si kakak) adalah semacam pasang taruhan di
acara sabung ayam yang sempat kami lewati tadi. Astaga...
Kenyang sudah dengan durian, puas sudah perjalanan kali ini.
Perjalanan pulang kami yang cukup pelan, dan kepala yang cukup berat (entah
kenapa, tiba-tiba saya merasa kemampuan mekan durian saya mulai merangkak
turun). Sambil menikmati udara yang bergerak kami bertiga berdendang bersama...
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
-Kolam susu by Koes Plus-
Selamat berakhir pekan, dan ingat terus lirik lagu di atas, “Orang
Bilang Tanah Kita Tanah Surga”. Selamat menikmati Tanah Kita Tanah Surga. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar