Bersama Mister Alpha..
Kala itu Rinai
masih menikmati masa Sekolah Menengah Atas, dan dia sedang mengagumi seorang
laki-laki bernama Alpha. Sebuah organisasi di sekolah mereka membuat intensitas
pertemuan Rinai dan Alpha meningkat. Di sebuah sore, setelah kegiatan
organisasi, Rinai dan Alpha berencana pergi berdua menuju sebuah Warung
Internet di sekitar sekolah mereka. Tanpa alasan, tanpa tujuan tertentu,
mungkin hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja. Di usia itu, tidak banyak
yang bisa dipahami oleh Rinai mengenai segala jenis tanda-tanda dan cara
menunjukkan rasa suka kepada Alpha. Rinai, gadis remaja ini hanya merasa senang ketika dia dibonceng
di belakang sepeda Alpha, melintasi lapangan upacara sekolah yang dikelilingi
pohon bungur, yang sedang tertiup angin dan menggugurkan bunga ungunya. Dan tak
lama dari itu, ketika mereka hampir sampai di tempat tujuan, datanglah hujan
yang tiba-tiba menderas. Tubuh Alpha yang jangkung dan bidang itu, menutupi
Rinai sehingga dia tidak terkena air hujan. Di atas sepeda Alpha, di belakang
boncengan Alpha, Rinai tersenyum bersyukur hujan ini datang di saat yang tepat.
Hujan dan para pohon Bungur, bisakah saat itu membeku begitu saja, batin Rinai
berharap.
Masih bersama
Mister Alpha, selepas festival sekolah, Rinai merencanakan sebuah perjalanan
kecil semacam camping ceria di perkebunan teh di dekat rumahnya. Kali ini
sedikit berbeda, Mister Alpha telah memiliki seorang wanita sebagai kekasihnya.
Rinai menunggu di depan gerbang sekolahnya, menunggu Alpha berpamitan kepada
wanitanya. Rinai menyadari tentang rasa yang dimilikinya terhadap Alpha, namun
dia sungguh hanya ahli dalam menyimpannya. Ah, Rinai hanya ingin membuat
kenangan sebanyak mungkin dengan Alpha, tidak peduli rasa apa yang dimiliki
Alpha untuknya. Dan mereka pergi ke kebun teh. Di sebuah kampung dalam
perjalanan menuju kebun, lagi-lagi hujan itu luruh ke bumi. Alpha mengeluarkan selembar matras,
dan membentangkannya di atas kepala mereka berdua. Rinai, seperti sebelumnya,
tersenyum malu dan kembali mengharap waktu berhenti pada masa itu. Bahkan anak
kecil yang sedang menikmati hujan di kampung itu mampu melihat betapa eloknya
mereka berdua sebagai sepasang kekasih.
“Rinai, mereka bilang kita sedang pacaran...”
ujar Alpha.
Rinai, hanya mengembangkan
tawanya. Tawa untuk meredam rasa yang membuncah saat itu.
Hujan, membuat
Rinai memiliki Mister Alpha, meski itu hanya berhenti pada sebuah kenangan.
Mister Alpha telah memilih jalan yang hingga kini tidak pernah lagi
bersinggungan dengan Rinai. Sedangkan Rinai, masih saja menunggu hujan
selanjutnya untuk membuat kenangan baru.
Bersama Mister Phi...
Rinai beranjak
dewasa, begitu banyak kesibukan dunia perkuliahan dan kegiatan organisasi yang
menghiasi hari-harinya. Dunia pertemanan Rinai yang semakin meluas, membuatnya
mengenal satu lelaki pembawa korek api, Mister Phi. Lelaki ini juga masih di
bangku perkuliahan, namun mereka berada di belahan kota yang berbeda. Pertemanan
mereka kemudian menjadi sebuah hubungan yang dianggap Rinai sebagai sebuah hubungan
Wanita dan Pria. Jarak jauh, tak menghalangi mekarnya rasa diantara mereka.
Setiap perjuangan yang dilakukan untuk menghapus jarak bagi keduanya adalah hal
yang indah.
Rinai, kala itu
sedang menuliskan setiap rasa yang muncul bersama Phi di dalam buku catatan
kecilnya. Dia duduk di ayunan (hammock) di teras rumah Phi, sambil menikmati
hujan dan lantunan musik. Rinai sedang terjadwal mengunjungi Phi di kotanya.
Diam-diam Rinai menunggu kehadiran Phi, dan teras adalah tempat menunggu yang
paling menyenangkan, teras akan lebih memudahkan Rinai mengenali kedatangan
Phi. Sedang Phi, yang saat itu begitu sibuk dengan berbagai proyek dan
perkuliahannya, terlihat berjalan dari salah satu ujung teras. Rinai menutup
buku catatannya, melihat Phi datang ke arahnya dengan tubuh kurus jangkungnya
mengenakan kemeja putih dengan lengan dilipat sesiku, celana jeans, sepatu
lapangan, dan tas day pack di punggungnya. Phi, datang menyembunyikan segenap
kelelahanya ke dalam senyum indahnya. Phi menyentuh pundak Rinai, dan kemudian
duduk berhimpitan dengan Rinai, berdua menikmati hujan. Tidak banyak yang
mereka perbincangkan, hingga Phi merebahkan kelelahannya berbaring di pangkuan
Rinai. Masih saja bersama Hujan.
Rinai dan Phi,
tidak lagi memiliki perjumpaan bersama hujan seperti kala lampau. Meski Rinai
ingin menikmati hujan di masa depanya bersama Phi, namun Rinai dipaksa menyerah
pada sebuah pilihan yang telah diambil oleh Phi. Hujan, kembali memberikan Phi
kepada Rinai, meski masih saja berhenti pada sebuah kenangan.
Bersama Mister Surya...
Rinai pada masa
yang lebih lanjut, Rinai yang agaknya jauh lebih memahami sulitnya menjalani
kehidupan. Dia sedang berada pada masa mencoba bertangungjawab terhadap dirinya
sendiri, pun keluarganya di kampung. Peliknya kehidupan membuat dia
mengesampingkan urusan hati, terlepas dari rasa lelah hati Rinai terhadap
Mister Phi.
Sudah cukup lama
Rinai tidak jatuh hati, hingga dia bergabung pada sebuah proyek pengambilan
data. Seorang lelaki bernama Surya, kakak tingkat Rinai di bangku perkuliahan,
entah kenapa selalu mengulurkan tangannya kepada Rinai. Dan, Rinai yang
hampir-hampir lupa tentang bagaimana tersenyum, kembali menemukan jalan kembali
bahagia bersama Surya. Setiap kekosongan diantara mereka saling terisi satu
sama lain. Tidak mudah bagi Rinai untuk mengakui bahwa dia memiliki rasa pada
Surya, pun Surya tidak pernah membahas masalah hati.
Seringkali mereka
menghabiskan waktu berdua, tidak perlu ada sebuah alasan khusus, bagi Rinai
asal bersama Surya dia akan merasa bahagia. Makan bersama, nonton pertunjukan
bersama, berbelanja bersama, bermain game bersama, olahraga bersama, mencari
foto bersama, plesir bersama, apapun... walau hanya duduk-duduk dan
berputar-putar kota tanpa tujuan... asal bersama.
Hujan... masa-masa
bersama mereka, juga bersama hujan. Rinai dan Surya pada sebuah malam gerimis,
mereka keluar untuk menonton pertunjukan wayang cina. Tepat setelah
pertunjukkan usai, dan mereka hendak beranjak melanjutkan kebersamaan dengan
menjelajahi pinggiran jalanan, namun tiba-tiba hujan deras menahan mereka.
Seperti juga ketika hujan menahan mereka berdua di atap sebuah mall, meski
hanya bisu diantara mereka berdua. Hujan juga membuat mereka bersarang di
sebuah gedung foodcourt, dan menghabiskan malam dengan sebungkus burger. Malam
berhujan kala itu, membuka sedikit mata Rinai, bahwa Surya tidak merancang masa
depan dengan keberadaan Rinai di dalamnya. Rinai kembali bersabar, mungkin
Surya hanya belum berpikir ke situ. Dan di hujan selanjutnya, Rinai bertemu
dengan Surya ketika Rinai memutuskan kembali ke kampung halamanya esok pagi.
Malam itu hujan, Rinai membawakan sebungkus susu segar dan roti bakar untuk
Surya yang telah menunggu di Perpustakaan Kota. Mereka tidak membahas mengenai
rasa takut berpisah satu sama lain, namun mereka hanya tidak menginginkan malam
itu berakhir. Tidak banyak kata yang terucap diantara keduanya, hingga mereka
berpindah ke gedung sebelah yang sedang menyelenggarakan sebuah acara musik
Jazz. Jalanan masih basah, dan bau hujan, Rinai mengikuti bayangan Surya yang
berjalan di depannya. Malam itu, terakhir kali Rinai melihat Surya. Rinai yang
meninggalkan Surya dalam keadaan penuh keraguan, sedang Surya tidak pernah
memberi kepastian. Rinai ingin membiarkan Surya menentukan hatinya, sedang
jarak itu justru semakin lebar, dan rasa itu hampir kadaluwarsa.
Bersama Hujan...
Bersama hujan,
Rinai memiliki setiap kenangan yang dia simpan untuk dirinya. Bersama hujan
Rinai melewati masa menyenangkan dengan orang-orang yang pernah memberi arti di
hatinya. Sepertimu Hujan... sepertimu yang selalu merindukan bumi, kelak rasa
rindu Rinai akan terjawab.