Jumat, 02 Oktober 2015

partner koboi

sesekali dalam kesengganganku...aku mencoba berangan untuk menghabiskan waktu luang bersama beberapa tempat baru.berangan sebanyak mungkin hingga sampai pada titik sadar bahwa itu hanya angan2 .
tidak apa2...aq pernah merasakan berangan mengunjungi sebuah tempat 10thn lalu..dan setelah 9 tahun..aku baru mampu menjejakkan kaki di tempat itu.
apa salahnya menyimpan mimpi2 qt kn?
ck...mungkin saja masalah waktu...atau uang...atau izin...atau banyak hal yg menghambat..
tapi bukan masalah segala apa yg kita punya...dan apa yg tidak qt punya...
ini adalah tentang keberanian untuk menghadapi kesedihan...
ya...merencanakan adalah hal yg selalu menyenangkan..
tapi ketika rencana itu hanya berakhir d pikiran kita...itu juga sangat menyedihkan.
betapa bebal diriku...ketika begitu banyak merasa sedih...tpi masih saja kembali berencana... bagaimana lagi... kurasa aku teĺah jatuh cinta pada sebuah perjalanan dan segenap tempat baru.
hanya itu yg bisa membantu menindih masa lalu.
seorang teman yg menyarankan membawa banyak peralatan unt perjalanan q   .. bukan teman...bukan kacamata hitam..bkn sandal traveling...pun bkn topi koboi...
aq hanya memerlukan partner yg koboi banget...entah itu kamu...atau bisa jadi dia yg lain.
lagi2...partner yg koboi untuk menindih sosok2 di masa lalu.


Senin, 28 September 2015

hei...mr.alexander supertramp

mungkin itu hanya mimpi...

mana ada orang yg mau melepaskan status mewahnya..demi untuk menikmati ketiadaan...
demi nama sebuah kebebasan...
yaa...dia yg jauh lebih bahagia ketika tdk memiliki apa2..dia yg anti kemapanan...dan penuh ketidakpastian...
yg pasti dalam dirinya..hanyalah sebuah pergerakan...
terus saja berjalan dg iringan musik alam...seperti samin yg acuh dg aturan...tidak ad yg mampu menghentikanya...kecuali pemahaman...
pemahaman bahwa dirinya terlalu kesepian untuk menikmati keindahan itu seorang diri...
hei...
alexander supertramp...
kemarilah..mari kita berjalan bersama..
aq tidak akan menjebakmu dalam sebuah kotak sosialita yg penuh tipu daya...
mari kita nikmati kebebasan...mari kita nikmati menjadi diri sendiri...manusia yg bebas...

Kamis, 06 Agustus 2015

Bersama Hujan...



Bersama Mister Alpha..
Kala itu Rinai masih menikmati masa Sekolah Menengah Atas, dan dia sedang mengagumi seorang laki-laki bernama Alpha. Sebuah organisasi di sekolah mereka membuat intensitas pertemuan Rinai dan Alpha meningkat. Di sebuah sore, setelah kegiatan organisasi, Rinai dan Alpha berencana pergi berdua menuju sebuah Warung Internet di sekitar sekolah mereka. Tanpa alasan, tanpa tujuan tertentu, mungkin hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja. Di usia itu, tidak banyak yang bisa dipahami oleh Rinai mengenai segala jenis tanda-tanda dan cara menunjukkan rasa suka kepada Alpha. Rinai, gadis remaja  ini hanya merasa senang ketika dia dibonceng di belakang sepeda Alpha, melintasi lapangan upacara sekolah yang dikelilingi pohon bungur, yang sedang tertiup angin dan menggugurkan bunga ungunya. Dan tak lama dari itu, ketika mereka hampir sampai di tempat tujuan, datanglah hujan yang tiba-tiba menderas. Tubuh Alpha yang jangkung dan bidang itu, menutupi Rinai sehingga dia tidak terkena air hujan. Di atas sepeda Alpha, di belakang boncengan Alpha, Rinai tersenyum bersyukur hujan ini datang di saat yang tepat. Hujan dan para pohon Bungur, bisakah saat itu membeku begitu saja, batin Rinai berharap.
Masih bersama Mister Alpha, selepas festival sekolah, Rinai merencanakan sebuah perjalanan kecil semacam camping ceria di perkebunan teh di dekat rumahnya. Kali ini sedikit berbeda, Mister Alpha telah memiliki seorang wanita sebagai kekasihnya. Rinai menunggu di depan gerbang sekolahnya, menunggu Alpha berpamitan kepada wanitanya. Rinai menyadari tentang rasa yang dimilikinya terhadap Alpha, namun dia sungguh hanya ahli dalam menyimpannya. Ah, Rinai hanya ingin membuat kenangan sebanyak mungkin dengan Alpha, tidak peduli rasa apa yang dimiliki Alpha untuknya. Dan mereka pergi ke kebun teh. Di sebuah kampung dalam perjalanan menuju kebun, lagi-lagi hujan itu luruh  ke bumi. Alpha mengeluarkan selembar matras, dan membentangkannya di atas kepala mereka berdua. Rinai, seperti sebelumnya, tersenyum malu dan kembali mengharap waktu berhenti pada masa itu. Bahkan anak kecil yang sedang menikmati hujan di kampung itu mampu melihat betapa eloknya mereka berdua sebagai sepasang kekasih.
Rinai, mereka bilang kita sedang pacaran...” ujar Alpha.
Rinai, hanya mengembangkan tawanya. Tawa untuk meredam rasa yang membuncah saat itu.
Hujan, membuat Rinai memiliki Mister Alpha, meski itu hanya berhenti pada sebuah kenangan. Mister Alpha telah memilih jalan yang hingga kini tidak pernah lagi bersinggungan dengan Rinai. Sedangkan Rinai, masih saja menunggu hujan selanjutnya untuk membuat kenangan baru.
Bersama Mister Phi...
Rinai beranjak dewasa, begitu banyak kesibukan dunia perkuliahan dan kegiatan organisasi yang menghiasi hari-harinya. Dunia pertemanan Rinai yang semakin meluas, membuatnya mengenal satu lelaki pembawa korek api, Mister Phi. Lelaki ini juga masih di bangku perkuliahan, namun mereka berada di belahan kota yang berbeda. Pertemanan mereka kemudian menjadi sebuah hubungan yang dianggap Rinai sebagai sebuah hubungan Wanita dan Pria. Jarak jauh, tak menghalangi mekarnya rasa diantara mereka. Setiap perjuangan yang dilakukan untuk menghapus jarak bagi keduanya adalah hal yang indah.
Rinai, kala itu sedang menuliskan setiap rasa yang muncul bersama Phi di dalam buku catatan kecilnya. Dia duduk di ayunan (hammock) di teras rumah Phi, sambil menikmati hujan dan lantunan musik. Rinai sedang terjadwal mengunjungi Phi di kotanya. Diam-diam Rinai menunggu kehadiran Phi, dan teras adalah tempat menunggu yang paling menyenangkan, teras akan lebih memudahkan Rinai mengenali kedatangan Phi. Sedang Phi, yang saat itu begitu sibuk dengan berbagai proyek dan perkuliahannya, terlihat berjalan dari salah satu ujung teras. Rinai menutup buku catatannya, melihat Phi datang ke arahnya dengan tubuh kurus jangkungnya mengenakan kemeja putih dengan lengan dilipat sesiku, celana jeans, sepatu lapangan, dan tas day pack di punggungnya. Phi, datang menyembunyikan segenap kelelahanya ke dalam senyum indahnya. Phi menyentuh pundak Rinai, dan kemudian duduk berhimpitan dengan Rinai, berdua menikmati hujan. Tidak banyak yang mereka perbincangkan, hingga Phi merebahkan kelelahannya berbaring di pangkuan Rinai. Masih saja bersama Hujan.
Rinai dan Phi, tidak lagi memiliki perjumpaan bersama hujan seperti kala lampau. Meski Rinai ingin menikmati hujan di masa depanya bersama Phi, namun Rinai dipaksa menyerah pada sebuah pilihan yang telah diambil oleh Phi. Hujan, kembali memberikan Phi kepada Rinai, meski masih saja berhenti pada sebuah kenangan.
Bersama Mister Surya...
Rinai pada masa yang lebih lanjut, Rinai yang agaknya jauh lebih memahami sulitnya menjalani kehidupan. Dia sedang berada pada masa mencoba bertangungjawab terhadap dirinya sendiri, pun keluarganya di kampung. Peliknya kehidupan membuat dia mengesampingkan urusan hati, terlepas dari rasa lelah hati Rinai terhadap Mister Phi.
Sudah cukup lama Rinai tidak jatuh hati, hingga dia bergabung pada sebuah proyek pengambilan data. Seorang lelaki bernama Surya, kakak tingkat Rinai di bangku perkuliahan, entah kenapa selalu mengulurkan tangannya kepada Rinai. Dan, Rinai yang hampir-hampir lupa tentang bagaimana tersenyum, kembali menemukan jalan kembali bahagia bersama Surya. Setiap kekosongan diantara mereka saling terisi satu sama lain. Tidak mudah bagi Rinai untuk mengakui bahwa dia memiliki rasa pada Surya, pun Surya tidak pernah membahas masalah hati.
Seringkali mereka menghabiskan waktu berdua, tidak perlu ada sebuah alasan khusus, bagi Rinai asal bersama Surya dia akan merasa bahagia. Makan bersama, nonton pertunjukan bersama, berbelanja bersama, bermain game bersama, olahraga bersama, mencari foto bersama, plesir bersama, apapun... walau hanya duduk-duduk dan berputar-putar kota tanpa tujuan... asal bersama.
Hujan... masa-masa bersama mereka, juga bersama hujan. Rinai dan Surya pada sebuah malam gerimis, mereka keluar untuk menonton pertunjukan wayang cina. Tepat setelah pertunjukkan usai, dan mereka hendak beranjak melanjutkan kebersamaan dengan menjelajahi pinggiran jalanan, namun tiba-tiba hujan deras menahan mereka. Seperti juga ketika hujan menahan mereka berdua di atap sebuah mall, meski hanya bisu diantara mereka berdua. Hujan juga membuat mereka bersarang di sebuah gedung foodcourt, dan menghabiskan malam dengan sebungkus burger. Malam berhujan kala itu, membuka sedikit mata Rinai, bahwa Surya tidak merancang masa depan dengan keberadaan Rinai di dalamnya. Rinai kembali bersabar, mungkin Surya hanya belum berpikir ke situ. Dan di hujan selanjutnya, Rinai bertemu dengan Surya ketika Rinai memutuskan kembali ke kampung halamanya esok pagi. Malam itu hujan, Rinai membawakan sebungkus susu segar dan roti bakar untuk Surya yang telah menunggu di Perpustakaan Kota. Mereka tidak membahas mengenai rasa takut berpisah satu sama lain, namun mereka hanya tidak menginginkan malam itu berakhir. Tidak banyak kata yang terucap diantara keduanya, hingga mereka berpindah ke gedung sebelah yang sedang menyelenggarakan sebuah acara musik Jazz. Jalanan masih basah, dan bau hujan, Rinai mengikuti bayangan Surya yang berjalan di depannya. Malam itu, terakhir kali Rinai melihat Surya. Rinai yang meninggalkan Surya dalam keadaan penuh keraguan, sedang Surya tidak pernah memberi kepastian. Rinai ingin membiarkan Surya menentukan hatinya, sedang jarak itu justru semakin lebar, dan rasa itu hampir kadaluwarsa.
Bersama Hujan...
Bersama hujan, Rinai memiliki setiap kenangan yang dia simpan untuk dirinya. Bersama hujan Rinai melewati masa menyenangkan dengan orang-orang yang pernah memberi arti di hatinya. Sepertimu Hujan... sepertimu yang selalu merindukan bumi, kelak rasa rindu Rinai akan terjawab.

Jujur Itu Gak Bikin Kita Bahagia



Terinspirasi dari postingan status teman dekat di sebuah sosial media, dia bilang bahwa ‘dunia memang sebuah panggung sandiwara, berpura-pura adalah sebuah cara mendalami dan melakoni peran dengan baik, toh jujur juga tidak membuat kita bahagia.’
malam sebelumnya, ada seorang wanita yang mencoba membuka lembaran masa lalunya. Dan dia menjadi goyah, wanita itu tidak mampu menahan rasa rindunya pada sosok di masa lalu. Sosok yang saat ini mungkin saja telah mampu hidup dengan baik tanpa dirinya. Tapi wanita itu terlalu rindu untuk tidak menyapa dan mengungkapkan kerinduan itu, dia terlalu lemah. sempat dalam benaknya terpikir akankah sosok itu mengatakan hal yang sama? mungkin dia akan tergetar dengan ketulusan dan kejujuran wanita itu. Sangat sulit bagi wanita itu menuliskan pesan singkat sarat makna kepada sosok yang hampir-hampir menjadi asing, namun dia tetap saja mencoba berani menjadi jujur.
dia mengetik “...tiba-tiba aku kangen...”
memejamkan mata, dan dengan penuh tekad memencet  tombol send...
keberanian yang coba dia kumpulkan untuk mengirim rasa rindunya, ternyata tidak sebesar rasa takut untuk menerima respon dari sosok tersebut. hingga dia lebih memilih mematikan alat komunikasi itu. dan setelah rasa rindu itu dirasa lebih netral di pagi harinya, dia memberanikan diri membaca balasan dari sosok itu.
terlalu singkat jawaban yang dia terima terhadap rasa rindu yang seolah menggebu...
“hehe...gitu yaa...”
hanya itu...
itulah balasan dari kejujuran yang saat itu coba diutarakan oleh si wanita. ya... wanita itu bisa sangat memahami, bagaimana kejujuran itu tidak membuatmu bahagia. Mungkin tidak selamanya, tapi kali ini seperti itulah adanya.

Sesuai Porsi



Tertahan selama beberapa waktu... beberapa waktu yang memang hanya ingin aku habiskan bersama keluargaku, tanpa diganggu dengan hiburan drama korea favorit maupun menulis. Sengaja aku menyimpan draft tulisan yang terinspirasi dari perjalanan kecilku memenuhi rindu kepada rasa dingin di Ranu Kumbolo beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri.
Kali ini adalah mengenai pengetahuan dan ketidak tahuan yang sesuai porsi.
Pernah di sebuah perjalanan mendaki gunung, beberapa kali aku melakukan perjalanan naik gunung pada waktu malam hari, biasanya kondisi ini terjadi untuk mendapatkan momen sunrise. Perjalanan malam, bermodal pencahayaan dari headlamp yang begitu terbatas, aku hanya mampu melihat jalan setapak yang ada di depanku. Begitu saja, aku melangkah mengikuti cahaya kecil tersebut hingga sampai pada tempat tujuanku. Dan ketika siang menjelang, ketika cahaya yang lebih besar memperlihatkan semua yang telah aku lalui, terkadang itu membuatku tercengang. Beberapa pertanyaan yang muncul di benakku, ‘apakah semalam aku melewati tanjakan seterjal ini?’ ‘ya ampun, semalam aku melewati punggungan setipis ini, dengan kanan kiri jurang seperti ini?’.
Dan siang itu, di perjalanan pulang menuju Ranu Pani, dari Ranu Kumbolo, sedikit lagi aku mencoba memahami cara Tuhan menyayangi kita, cara Tuhan membantu kita. Ketidak tahuan, yang sering kali aku maki, ternyata malah menjadi cara Tuhan membuat hidupku lebih mudah. Seperti juga yang aku alami ketika gelap malam menutup pengetahuanku mengenai jalan terjal berjurang yang harus aku lewati untuk mencapai puncak, sehingga aku bisa mencapai puncak itu tanpa memikirkan rasa takut, cemas, dan keraguan. Tuhan seringkali menutup pengetahuanku tentang sesuatu hal, mungkin saja karena Tuhan ingin melindungiku dari segala rasa takut, cemas dan ragu untuk melanjutkan kehidupan sebelum aku sampai pada takdirku. Dan pada suatu pemahaman yang lebih baik, ketika aku sudah pada masa yang tepat, dengan cara yang unik Tuhan akan memberikan jawaban atas ketidaktahuanku.
Mungkin memang tidak seharusnya kita memaksakan untuk mengetahui sesuatu hal, karena mungkin saja Tuhan sedang melindungi kita dari pengetahuan yang akan menyulitkan kita untuk menjalani kehidupan ini. Porsi takaran pengetahuan dan konsekuensi atas pengetahuan itu, Tuhan jauh lebih bisa memahaminya. Pada masa yang tepat, rasa ingin tahu itu akan terjawab ketika kita telah sampai pada pemahaman yang baik. Pemahaman yang justru akan memudahkan jalan kehidupan kita. Dan kita telah siap dan berani menghadapi setiap pengetahuan dan kebenaran yang ada.

Rabu, 22 April 2015

Happy Weekend edisi Tanah Kita Tanah Surga

Belah duren di siang hari...!!
 Selamat berakhir pekan...
Masih dalam rangka menikmati ‘perjalanan’, kali ini sebuah perjalanan kecil bersama teman kerja. Seringkali kita memerlukan sebuah alasan untuk melakukan sesuatu, termasuk sebuah perjalanan. Entah itu sekedar untuk membekukan sebuah momen ke dalam frame foto, atau mencari suasanan baru. Tapi perjalanan kecil kami bertiga kali ini memiliki tujuan yang hanya bisa terjadi secara musiman...ya... kami ingin menikmati secara ekslusif musim durian di Malinau.
Musim durian kali ini berlangsung lebih cepat beberapa bulan, dibandingkan dengan tahun kemarin. Seingatku, tahun lalu aku baru bisa menikmati mantapnya durian Malinau sekitar bulan Juli hingga bulan September. Tapi Tahun ini, musim spesial ini datang lebih cepat, yaitu di bulan April. Awalnya aku juga kurang yakin apakah memang sudah mulai musim, dan setelah melihat dengan mata kepala sendiri saya mengabsahkan kedatangan musim ini. Welkam to Malinau, wahai para durian nikmat.. J
Keseruan selanjutnya adalah sesi berburu durian bersama kawan. Menikmati durian dengan membeli di penjual terlalu mudah kami rasa, sehingga kegiatan blusukanpun kami jabanin. Bermodal informasi dasar dari seorang teman, kami menelusuri jalanan rock n roll berdebu menuju kampung kecil di ujung jalan, kampung beringin. Menuju ke kampung tersebut, kanan kiri jalan banyak kami temui pohon durian. Sesekali kami melongok mencari pengumpul durian yang ada di bawah tegakan sawit.
pondok penjaga di bawah kebun sawit
Kami sedikit kesorean saat itu, sehingga sudah sedikit stok durian yang ada di sekitar kebun. Yaa..kami memang sengaja mencari durian yang masih fresh from the tree. Benar-benar masak dari pohon, dan rasanya maknyuss. Setelah sedikit hopeless karena kami belum menemukan sisa pengumpul durian yang ada di kebun, kami melihat ada pondok yang menyajikan 3 buah durian. Beruntung bagi kami, durian itu belum memiliki tuanya. Sikat sudah 3 durian yang terlihat menggiurkan itu. Dan...memang nikmat.
si Kakak Penjaga Kebun
Sambil menikmati durian fresh from the tree, kami pun berbincang dengan si penjual. Anak kecil berumur sekitar 10 tahunan, dia mengaku sebagai seorang murid SD. Sepulang sekolah dia langsung pergi ke kebun durian yang sedang kami singgahi itu. Kerja dia sederhana saja, mencari durian yang telah berjatuhan, dan menjajakannya di pondok yang terletak di bawah tegakan kebunsawit. Jika durian yang dipajangnya sudah ludes, maka dia hanya perlu berdiam dan menunggu ronde durian jatuh berikutnya. Begitulah siklus berdagang anak kecil itu (saya lupa namanya). Dia tidak menjaga kebun sendiri, bersama seorang adik yang lebih kecil darinya, seorang adik yang kira-kira berumur 5-6 tahunan. Dia (si kakak) cukup pandai dalam tawar menawar harga durian. Cukup alot kami mendapatkan harga deal durian dengannya, 30 ribu rupiah untuk 3 buah durian mantap. Pada akhirnya kami sedikit memberi tips untuk si adek kecil, karena kepandaiannya berdagang dan kepuasan kami makan durian yang enak itu.
si Adik Penjaga Durian
Dalam perbincangan, kami sedikit bertanya kenapa bukan orang tua mereka yang menjaga kebun durian tersebut. Mereka menjelaskan bahwa orang tua mereka menjaga kebun pada pagi hari, karena waktu-waktu tersebut paling banyak durian berjatuhan, dan biassanya sudah ada pengepul  durian di pagi-pagi buta itu. Siang harinya, orang tua mereka meminta dia (si kakak) menjaga kebun, karena si ortu ingin sedikit refresing main PS (awalnya saya berpikir ini memang benar permainan PS bin playstation). Ahh... gahol juga ni para orang tua maen PS, sedang anaknya hanya jaga kebun duren. Obrol punya obrol, akhirnya di ujung perbincangan kami, ternyata PS yang dimaksud si dia (si kakak) adalah semacam pasang taruhan di acara sabung ayam yang sempat kami lewati tadi. Astaga...
Kenyang sudah dengan durian, puas sudah perjalanan kali ini. Perjalanan pulang kami yang cukup pelan, dan kepala yang cukup berat (entah kenapa, tiba-tiba saya merasa kemampuan mekan durian saya mulai merangkak turun). Sambil menikmati udara yang bergerak kami bertiga berdendang bersama...
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
-Kolam susu by Koes Plus-
Selamat berakhir pekan, dan ingat terus lirik lagu di atas, “Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga”. Selamat menikmati Tanah Kita Tanah Surga. J

Rabu, 15 April 2015

The core of the Journey, is Coming Back Home

Inti dari sebuah perjalanan, adalah Pulang.

Ketertarikan setiap orang memang berbeda, banyak hal yang bisa muncul ketika kita membahas mengenai ketertarikan itu sendiri. Ada jenis ketertarikan yang sederhana, medium, rumit, bahkan ekstrim. Ketertarikan antar sesama manusia, ketertarikan pada kemewahan, ketertarikan pada sebuah aktivitas, ketertarikan pada keklasikan, dan banyak lagi. Sesuatu yang jarang disadari, namun ternyata menjadi kecenderungan dalam diri masing-masing. Ketertarikan itu juga bukan sesuatu yang sengaja dibuat-buat hanya untuk sebuah status sosial, gengsi, pamer, dan ajang unjuk diri. Hal itu muncul seperti sebuah klik, ketika kita merasa menikmati, ketika pada akhirnya kita ingin mengetahui lebih dalam dan mencoba lebih banyak. Banyak pula dari kita yang memiliki ketertarikan lebih dari satu hal, hanya kadar dan intensitasnya terkadang berbeda. Ada yang hanya ala kadarnya, namun juga ada yang sangat intens. Dari begitu banyak ketertarikan yang pernah aku alami, ada yang kadarnya lebih tebal daripada ketertarikan lainnya. Dia bertahan cukup lama, dan aku merasa sangat menikmatinya, ketertarikanku pada sebuah perjalanan.
Dalam sebuah perjalanan, terkadang aku menemukan tujuan perjalananku selanjutnya.
Bahkan hidup juga adalah sebuah perjalanan, hingga kelak kita akan mengetahui bahwa tujuan perjalanan ini adalah untuk kembali pulang. Setiap peristiwa, tempat baru, orang baru, dan keadaan yang baru hanyalah sebuah pemberhentian sementara, tempat singgah. Di situ terkadang aku sedikit banyak belajar mengenai esensi kehidupan, meski mungkin banyak yang masih saja terlewat. Mengenai tujuan hidup seseorang, jangan terlalu mengkhawatirkan kelak akan menjadi apa diri kita, akan seperti apakah diri kita. Melalui perjalanan juga pada tempat persinggahan, terkadang kita akan menemukan ide perjalanan selanjutnya dan tempat persinggahan selanjutnya. Jangan khawatir, sesekali Tuhan ingin bermain dengan kita, sesekali juga Tuhan menahan jawaban atas tanya kita, yang kelak pasti akan dijawabnya ketika kemampuan pemahaman kita sudah pada waktunya. Cukup jalani saja perjalanan kali ini dengan sebaik-baiknya.
Mengingat setiap perjalanan yang pernah aku lakukan, selalu saja menyenangkan. Sangat bersyukur pada masa itu pernah menikmati perjalanan-perjalanan yang tak jarang juga kena asam manisnya. Pada intinya, aku tidak menyesal melewati masa-masa itu penuh dengan kegilaan perjalanan masa muda. Tak jarang aku bertemu dengan orang yang lebih berumur dari aku, dan mengatakan bahwa mereka ingin mengunjungi tempat-tempat yang pernah aku jamah, namun apa daya ketika tubuh semakin menua dan bukan saatnya menaikan ego pribadi karena sebuah tanggungjawab baru telah disandang mereka. Ini bukan berarti bahwa kehidupanku lebih baik dan lebih menyenangkan dari mereka, hanya saja ada sebuah kepuasan tersendiri ketika aku merasa tidak ada penyesalan dalam menjalani masa muda itu. Masa dimana ego pribadi anak muda yang jarang berpikir mengenai resiko dan haus akan jawaban akan rasa penasarannya meloncat setinggi-tingginya tanpa mau diberikan batas.
Di dalam sebuah perjalanan, terkadang aku menemukan aku yang begitu kecil di antara semesta...
di dalam sebuah perjalanan, aku melihat keanekaragaman kehidupan semesta...
di dalam sebuah perjalanan, aku melihat kelelahan juga kekuatan...
di dalam sebuah perjalanan, aku menyadari keegoisan juga pengorbanan...
di dalam sebuah perjalanan, aku menemukan lawan dan kawan...
di dalam sebuah perjalanan, aku menghirup asap pekat dan kesegaran...
di dalam sebuah perjalanan, aku memeluk rasa dingin dan menyambut secercah sinar hangat...
di sebuah perjalanan, terkadang ada keraguan dan penyesalan...
di sebuah perjalanan, aku merasakan arti bersama dan kesendirian...
di sebuah perjalanan, terkadang Tuhan mengajarkan tentang bagaimana dunia bekerja...
di sebuah perjalanan, aku selalu mengingat tempat dimana aku berasal...
dan di sebuah perjalanan, selalu ada pintu yang terbuka untukku, orang-orang yang setia menungguku, rasa hangat yang akan memeluk rasa suka duka pun cinta dan luka yang aku dapatkan, mereka yang menjaga jalan kembaliku tetap utuh, jalanku kembali pulang dari sebuah perjalanan.